Kesehatan

Jangan Abaikan! 15 Ciri Gula Darah Tinggi & Cara Menurunkannya
Kesehatan18 NOV 2024

Jangan Abaikan! 15 Ciri Gula Darah Tinggi & Cara Menurunkannya

Gula darah yang dibiarkan tinggi berulang kali bisa berdampak pada masalah kesehatan seperti diabetes, katarak, retinopati, dan rusaknya pembuluh darah serta saraf di jantung. Oleh karenanya, penting untuk mengenali ciri-ciri gula darah tinggi sejak dini dan segera mengambil tindakan, agar risiko-risiko ini dapat dicegah atau setidaknya diminimalkan. Apa Saja yang Dirasakan Ketika Gula Darah Tinggi? Sejumlah kondisi ini bisa jadi sinyal bahwa kadar gula dalam tubuh Anda tengah naik:  1. Mata Tidak Fokus dan Pandangan Tampak Buram Fluktuasi gula yang cepat akan berdampak pada membengkaknya lensa mata. Maka dari itu, Anda akan kesulitan melihat objek di depan Anda dengan jelas dan terfokus.  2. Mati Rasa di Kaki atau Kesemutan Lonjakan gula mempengaruhi seluruh saraf di tubuh, namun paling sensitif terhadap saraf-saraf di kaki. Maka dari itu, Anda akan merasakan kesemutan atau mati rasa. 3. Frekuensi Kencing yang Lebih Sering Kondisi ini lebih umum terjadi di siang hari. Namun tidak menutup kemungkinan juga, kondisi ini akan mengganggu istirahat Anda di malam hari. Hal ini terjadi karena tubuh Anda mengalami diuresis osmotik, yakni meningkatnya laju keluarnya urin karena zat yang disaring ginjal. 4. Tubuh Lebih Kurus atau Gemuk Ada perubahan pada bentuk tubuh Anda, baik semakin kurus atau semakin gendut, meskipun tidak ada perubahan dalam hal pola makan atau gaya hidup.  5. Luka Tak Kunjung Sembuh Luka sayatan, seperti saat Anda terluka ketika memotong buah dan sayuran, hanya akan membutuhkan 4 hingga 24 hari untuk sembuh.[1]   Jika luka butuh waktu yang lebih lama untuk pulih, itu karena kurangnya oksigen dan nutrisi yang mencapai area luka, akibat penyempitan pembuluh darah ketika kadar gula tinggi. 6. Rasa Lelah yang Tidak Wajar Ciri-ciri orang mengalami gula darah tinggi​ lainnya adalah merasa lelah meskipun tidak melakukan hal-hal yang menguras tenaga. Kondisi ini terjadi karena insulin di tubuh Anda tidak cukup untuk mengantarkan gula ke sel-sel sebagai sumber energi. 7. Sakit-Sakitan Gula yang melebihi batas normal berkontribusi pada memburuknya respons peradangan serta mengurangi kekuatan daya tahan tubuh.[2] Oleh karenanya, Anda akan lebih rentan dan mudah sakit. 8. Kulit Bersisik Ciri-ciri gula darah tinggi pada kulit adalah kulit yang tampak lebih kering dan bersisik. Kondisi ini merupakan reaksi yang muncul ketika tubuh Anda terlalu banyak mengeluarkan cairan tubuh lewat urin, guna menyingkirkan kelebihan gula di tubuh. 9. Vagina Kering Ciri gula darah tinggi pada wanita ini terjadi karena gula yang tinggi merusak pembuluh darah di vagina sehingga pelumas di area kewanitaan tersebut berkurang. Dampaknya, Anda mungkin merasakan ketidaknyamanan atau rasa sakit saat berhubungan seksual. 10. Bau Napas Seperti Buah Busuk Bau mulut yang tidak sedap ini muncul karena kondisi mulut yang kering seiring meningkatnya frekuensi buang air kecil. Kurangnya air liur yang berfungsi membunuh mikroba di mulut menjadi penyebab utama masalah ini. 11. Mudah Haus Kondisi tubuh yang lebih sering mengeluarkan urin dari biasanya akan membuat tubuh Anda dehidrasi. Maka dari itu, Anda sering kali merasa haus.[3] 12. Sakit Kepala Tingginya gula yang menyebabkan dehidrasi, pelebaran pembuluh darah di otak,  serta perubahan hormon, akan memicu munculnya sakit kepala. Rasa nyeri di area pelipis adalah salah satu ciri khas dari sakit kepala ini.[4] 13. Mual Gula darah yang melonjak secara mendadak akan membuat metabolisme terganggu dan kacau. Perubahan mendadak ini membuat tubuh kesulitan untuk menyesuaikan diri, sehingga timbul sensasi yang mengganggu seperti mual. 14. Sulit Konsentrasi Dari waktu ke waktu kadar gula yang berlebihan akan merusak pembuluh darah di otak, yang mana fungsinya adalah membawa darah yang kaya oksigen ke otak. Ketika otak Anda menerima terlalu sedikit darah, sel-sel otak bisa mati. Hal ini akan membuat Anda kesulitan untuk berkonsentrasi, fokus, atau mengingat sesuatu. 15. Suasana Hati yang Buruk Tidak hanya orang dewasa, anak-anak juga bisa mengalami kondisi ini. Ciri-ciri gula darah tinggi pada anak adalah suasana hatinya yang buruk. Mereka menjadi mudah marah, cemas, mudah tersinggung, dan agresif. Solusi Mengatasi Gula Darah Tinggi Apakah tanda-tanda tersebut familiar bagi Anda? Ini sejumlah hal yang bisa bantu Anda mengembalikan gula darah pada level yang aman: Olahraga Setiap Hari Sisihkan 30 menit waktu Anda untuk berolahraga. Tidak perlu olahraga yang berat, jalan kaki di sekitar rumah atau lari pagi di taman sudah cukup untuk membuat tubuh lebih responsif terhadap insulin dan menekan gula darah. Makan Sayur Sulforaphane yang terdapat pada sayur hijau punya sifat mengurangi gula  di darah.[5] Cobalah makan hidangan dengan brokoli, kubis, kembang kol, atau bok choy untuk memperoleh manfaatnya. Minum Teh Herbal Teh herbal seperti teh hijau dan kunyit memiliki kemampuan untuk menurunkan gula darah puasa. Ganti minuman manis Anda dengan teh herbal ini untuk menjaga kesehatan tubuh. Jika ciri-ciri gula darah tinggi di atas cukup familer dengan kondisi Anda, segeralah ke fasilitas kesehatan terdekat untuk pengecekan gula darah. Dengan begitu, Anda akan mengetahui langkah apa yang perlu diambil selanjutnya jika hasilnya menunjukkan kadar yang tinggi. Belanja Sehat dan Hemat di Sido Muncul Store! Dapatkan poin reward pada setiap pembelian, kumpulkan point dan tukarkan dengan potongan harga! Semakin banyak poin, semakin hemat belanja! Yuk, kunjungi Sido Muncul Store sekarang!
Baca SelengkapnyaBaca Selengkapnya
Jaga Kondisi Tubuh, Hindari 12 Penyebab Gula Darah Tinggi Ini
Kesehatan17 NOV 2024

Jaga Kondisi Tubuh, Hindari 12 Penyebab Gula Darah Tinggi Ini

Pada awalnya, gula darah tinggi, memang hanya akan membuat Anda mengantuk dan sering buang air kecil. Namun, seiring waktu, kondisi ini akan merusak organ secara permanen. Untuk itu, mengambil langkah pencegahan dengan menghindari penyebab gula darah tinggi adalah langkah yang bijak. Ingat, lebih baik mencegah daripada harus mengobati! Penyebab Gula Darah Tinggi Berbagai faktor di sekitar Anda juga bisa menjadi penyebab gula darah meningkat, seperti: 1. Minum Minuman Instan Berpemanis Jangan tertipu dengan embel-embel bebas gula, padahal minuman kemasan yang Anda beli mengandung pemanis buatan.  Hal ini memang tidak secara langsung membuat lonjakan gula dalam tubuh. Namun, konsumsi pemanis buatan dalam jangka waktu lama akan membuat tubuh resisten terhadap insulin.[1] Padahal, kemampuan tubuh untuk bereaksi terhadap insulin sangatlah penting untuk menjaga keseimbangan gula dalam tubuh. 2. Sering Begadang Masih suka menonton film atau bermain gim hingga subuh? Coba kurangi kebiasaan ini. Pasalnya, kurangnya waktu tidur, akan memengaruhi cara tubuh Anda mengelola gula dan hormon insulin.[2]  Jika kebiasaan ini terus berlanjut tanpa perubahan, Anda berisiko menjadi salah satu pasien rumah sakit yang datang dengan masalah diabetes. 3. Melupakan Makan Pagi Apa yang bisa menyebabkan gula darah tinggi? Salah satunya adalah kebiasaan melewatkan makan pagi. Melewatkan waktu makan pagi ini akan mempengaruhi sekresi insulin serta meningkatkan HbA1c, yakni zat yang menandakan bahwa tubuh Anda tidak dapat menggunakan gula dengan baik.[3] 4. Minum Kopi Konsumsi kafein kopi dalam jangka panjang memang bisa meningkatkan respon tubuh terhadap insulin dan meningkatkan metabolisme gula di tubuh.[4] Namun, menambahkan gula atau krimer ke dalam kopi, seperti pada cappuccino dan latte, bisa menyebabkan lonjakan gula darah. 5. Dehidrasi Penyebab gula darah tinggi selain makanan adalah kondisi tubuh yang dehidrasi. Semakin dehidrasi tubuh Anda, semakin pekat juga glukosa dalam aliran darah, sehingga ketika dilakukan pengecekan, kadar gula akan tinggi. 6. Tubuh Kurang Aktif Tubuh yang kurang aktif menjadi salah satu penyebab gula darah tinggi pada lansia. Pasalnya, olahraga membuat tubuh menjadi lebih responsif terhadap insulin.  Sebaliknya, jika tubuh jarang bergerak, seperti yang terjadi pada lansia yang mengalami kesulitan mobilitas, maka tubuh dapat menjadi resisten terhadap hormon ini. Namun, bukan hanya lansia yang terpengaruh. Anak-anak muda yang lebih memilih untuk bermalas-malasan juga bisa mengalami hal yang sama.  Bahkan, sebuah penelitian menunjukkan bahwa orang yang berbaring di tempat tidur selama lima hari tanpa aktivitas yang aktif, sudah mulai menunjukkan tanda-tanda resistensi insulin.[5] 7. Stres Stres memang bisa berdampak pada banyak kondisi kesehatan, termasuk naiknya gula darah. Bagaimana bisa? Keluarnya hormon katekolamin ketika Anda stres akan merangsang glikogenesis atau pembentukan gula di tubuh. Oleh karenanya, Anda bisa mengalami hyperglycemia.[6] 8. Konsumsi Obat Penggunaan berbagai jenis obat, termasuk steroid, pil kontrasepsi, obat yang digunakan untuk mengatasi asma, serta diuretik, dapat memicu lonjakan gula. Untuk menjaga kesehatan, sebaiknya konsultasikan dengan dokter jika Anda mengonsumsi obat-obatan tersebut 9. Merokok Jika rokok adalah benda favorit yang Anda nikmati setiap hari, ketahuilah bahwa nikotin dari rokok tersebut dapat membuat sel-sel tubuh Anda kurang responsif terhadap insulin.[7] Ini menjadikan perokok lebih rentan terhadap beragam penyakit, termasuk risiko diabetes. 10. Makan Kudapan Setelah Makan Malam Mengemil setelah makan malam, terutama jika kudapan tersebut mengandung banyak karbohidrat, bisa membuat Anda terbangun dengan gula darah yang tinggi. Contoh kudapan karbohidrat yang umum adalah camilan berbahan dasar kentang, keripik tortilla, dan juga berbagai jenis kue. 11. Makan Buah Tinggi Gula Tidak hanya kue atau jajanan manis yang membuat gula Anda naik, beberapa jenis buah juga termasuk dalam makanan penyebab gula darah tinggi karena mengandung gula serta karbohidrat.  Buah penyebab gula darah tinggi ini termasuk pisang yang terlalu matang, nanas, semangka, anggur, dan juga mangga. 12. Konsumsi Alkohol Beberapa alkohol jenis seperti wiski, bir, dan juga coffee liqueur, mengandung karbohidrat yang nantinya akan diolah menjadi gula oleh tubuh. Jika Anda mengonsumsinya dalam jumlah yang berlebihan, dapat dipastikan, gula Anda akan meningkat. Solusi Menurunkan Gula Darah Jika hasil tes menunjukkan kadar yang tinggi, berikut adalah beberapa langkah yang dapat Anda ambil untuk mengembalikan gula darah ke level normal: Rutin olahraga: Sisihkan waktu minimal 30 menit setiap hari untuk melakukan aktivitas fisik yang ringan, seperti berjalan kaki, berlari, atau berenang. Hentikan kebiasan buruk, seperti merokok, mabuk, atau jajan jajanan instan yang tidak sehat dan tinggi gula. Lakukan hal-hal yang bisa menurunkan stres Anda, seperti melakukan hobi atau rekreasi ke tempat yang menenangkan. Jauhi hal-hal yang menjadi penyebab gula darah tinggi dan raih kehidupan yang lebih berkualitas dengan tubuh yang sehat. Belanja Sehat dan Hemat di Sido Muncul Store! Dapatkan poin reward pada setiap pembelian, kumpulkan point dan tukarkan dengan potongan harga! Semakin banyak poin, semakin hemat belanja! Yuk, kunjungi Sido Muncul Store sekarang!
Baca SelengkapnyaBaca Selengkapnya
Tidak Sama, Ini 10 Perbedaan dari Diabetes Tipe 1 dan 2
Kesehatan16 NOV 2024

Tidak Sama, Ini 10 Perbedaan dari Diabetes Tipe 1 dan 2

Dalam dunia medis, kondisi diabetes yang dihubungkan dengan tingginya kadar gula darah diklasifikasikan menjadi dua jenis, yakni diabetes tipe 1 dan tipe 2. Kedua kondisi ini sering kali disalahpahami sebagai kondisi yang sama. Padahal, perbedaan diabetes tipe 1 dan 2 cukup beragam, dari penyebab hingga penanganannya.  Agar Anda dapat memahami lebih baik tentang dua kondisi ini dan memberikan perawatan yang tepat, berikut beda tipe 1 dan 2 diabetes: 1. Akar Masalahnya Apa beda diabetes melitus tipe 1 dan tipe 2? Perbedaan paling dasarnya adalah pemicunya.  Dalam kondisi diabetes tipe 2, kondisi yang Anda rasakan adalah buah dari tindakan yang sering Anda lakukan dalam keseharian. Contohnya, konsumsi makanan berlemak, manis, hingga jarang melakukan olahraga.  Sementara itu, diabetes tipe 1 tidak berkaitan dengan kebiasaan atau pola hidup penderitanya. Penyakit ini lebih disebabkan oleh kondisi autoimun akibat faktor genetik serta infeksi virus tertentu, seperti enterovirus, rotavirus, atau virus gondongan (mumps).[1] 2. Kondisi Insulin dalam Tubuh Pada diabetes tipe 1, kondisi insulin dalam tubuh sangatlah minim atau bahkan tidak ada sama sekali. Penyebabnya adalah kondisi autoimun dalam tubuh yang merusak sel-sel pankreas, sehingga tubuh tidak dapat menghasilkan hormon ini dengan baik. Dalam kasus diabetes tipe 2, tubuh masih memiliki insulin, tetapi kemampuan tubuh untuk merespons insulin tersebut menurun akibat tingginya kadar gula darah atau hyperglycemia. Pada tahap lanjut, kadar insulin juga dapat menurun. Ketika tubuh tidak merespons insulin dengan baik, pankreas akan berusaha keras menghasilkan lebih banyak insulin agar sel-sel tubuh dapat bereaksi. Namun, lama-kelamaan, kerja keras ini akan melemahkan pankreas, hingga akhirnya produksi insulin menurun. 3. Usia Penderita Perlu di garis bawahi, kedua tipe diabetes tidak mengenal umur. Artinya, baik muda maupun tua, semua golongan bisa terkena kondisi ini. Namun, jika berbicara tentang golongan usia yang lebih rentan, diabetes tipe 1 umumnya lebih sering rentan terjadi pada anak-anak, terlebih di usia 10 hingga 14 tahun.[2] Sebaliknya, pada diabetes tipe 2, sebagian besar kondisi justru terjadi pada orang dewasa yang berusia 45 tahun ke atas.[3] 4. Tingkat Risiko Perbedaan gejala diabetes tipe 1 dan 2 lainnya adalah prevalensinya. Diabetes tipe 1 hanya mencakup sekitar 5 hingga 10% dari total kasus diabetes, sedangkan hampir 90% kasus diabetes adalah tipe 2.[4] 5. Gejala Awal Sinyal yang menjadi ciri diabetes tipe 1 akan muncul secara bertahap, namun dalam waktu yang berdekatan, mengingat kondisi pankreas bisa semakin memburuk dalam hitungan hari, minggu, atau bulan.[5] Sementara itu. sinyal-sinyal pada tipe 2 juga muncul secara bertahap. Namun, kemunculannya tidak secepat dan se-agresif yang terlihat pada tipe 1. Maka dari itu, banyak penderita kondisi ini yang tidak mengetahui bahwa tubuhnya sedang bermasalah. 6. Pencegahan Mengingat bahwa diabetes tipe 1 muncul karena pengaruh genetik dan juga infeksi virus, upaya pencegahan untuk kondisi ini tidak dapat Anda lakukan karena penyebabnya di luar dari kuasa Anda. Berbeda halnya dengan tipe 2, di mana prinsip hidup yang sehat dan terjaga bisa menjauhkan Anda dari potensi penyakit ini. 7. Penanganan Pada kondisi yang tidak parah, pemilihan makanan yang tepat, seperti tinggi serat dan juga rendah lemak bisa memperbaiki kondisi diabetes tipe 2. Penanganannya tidak melulu bergantung pada konsumsi obat. Hal ini tidak berlaku pada tipe 1, karena tipe 1 membutuhkan suntik insulin harian agar kondisi tidak memburuk. Dengan kata lain, pasien akan selalu bergantung pada suntikan insulin untuk mengelola kondisinya. 8. Potensi Kesembuhan Apakah diabetes tipe 2 dapat sembuh? Bukan sembuh secara total, namun kondisi ini bisa memasuki masa remisi, di mana penderitanya tidak lagi membutuhkan medikasi penurun glukosa untuk menjalani hari dengan normal. Dalam kondisi ini pun, individu masih harus menjaga pilihan makanan agar penyakit tidak kambuh. Namun, tidak demikian pada tipe 1. Sampai detik ini, belum ada solusi pasti yang bisa mengatasi kondisi ini. 9. Faktor Risiko Pada diabetes tipe 1, risiko untuk terkena penyakit ini meningkat jika ada anggota keluarga yang juga mengalaminya.  Berbeda halnya dengan tipe 2, di mana kondisi ini tidak akan diturunkan dari ayah atau ibu ke anak. Kondisi ini baru akan berpotensi menyerang Anda apabila Anda mempunyai kebiasaan makan yang jelek dan jarang berolahraga. 10. Metode Diagnosa Cara mengetahui diabetes tipe 1 dan 2 juga berbeda. Keduanya diperiksa melalui tes gula darah, tetapi pada diabetes tipe 1, akan dilakukan uji lanjutan, yakni tes antibodi. Apabila ditemukan autoantibodi, maka pasien akan didiagnosis menderita diabetes tipe 1. Perbedaan diabetes tipe 1 dan 2 cukup mencolok. Oleh karena itu, jika Anda merasakan gejala-gejala yang mencurigakan, sebaiknya lakukan tes kesehatan untuk mengidentifikasi jenis diabetes yang Anda alami, agar penanganannya bisa lebih tepat sasaran. Belanja Sehat dan Hemat di Sido Muncul Store! Dapatkan poin reward pada setiap pembelian, kumpulkan point dan tukarkan dengan potongan harga! Semakin banyak poin, semakin hemat belanja! Yuk, kunjungi Sido Muncul Store sekarang!
Baca SelengkapnyaBaca Selengkapnya
Diabetes Gestasional di Masa Kehamilan: Fakta, Risiko, dan Solusi
Kesehatan16 NOV 2024

Diabetes Gestasional di Masa Kehamilan: Fakta, Risiko, dan Solusi

Perubahan yang terjadi di dalam tubuh ketika hamil membawa sejumlah dampak, salah satunya diabetes gestasional. Di Indonesia, kasusnya memang tercatat cukup rendah, yakni sekitar 1,9% hingga 3,6% kejadian dari seluruh kehamilan.[1] Namun, ini tidak menutup kemungkinan bahwa Anda tetap bisa mengalaminya. Apa yang dimaksud diabetes gestasional dan bahayakah kondisi ini? Temukan jawabannya di sini! Mengenal Diabetes Gestasional Gangguan kesehatan ini merupakan situasi di mana calon ibu terdiagnosa diabetes karena kondisi kehamilannya. Fenomena ini tak sama dengan kondisi diabetes tipe 1, di mana permasalahannya terkait dengan jumlah insulin yang tidak cukup. Namun, disebabkan oleh perubahan yang terjadi dalam tubuh ketika hamil. Bahayakah ini? Kebanyakan wanita menjalani kehamilan dengan normal dan bayi terlahir tanpa masalah. Meski begitu, ada sejumlah risiko kesehatan yang masih perlu Anda waspadai: Bayi punya kulit dan mata yang kekuningan ketika baru dilahirkan. Bayi berkembang dengan bobot melebihi rata-rata normal. Hal ini akan membuat proses persalinan menjadi lebih menyulitkan. Persalinan prematur sebelum usia janin 37 minggu. Pada kasus yang serius, janin bisa tidak berkembang. Penyebab Diabetes Gestasional Memasuki masa kehamilan, tubuh wanita akan mengeluarkan hormon plasenta. Secara fungsi, hormon-hormon ini memicu perubahan fisiologis pada ibu yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan janin.[2] Namun, di sisi lain, hormon ini akan membuat tubuh menjadi resistensi terhadap insulin. Akibatnya, glukosa dalam darah si ibu menumpuk dan menyebabkan kelebihan gula darah. Kemungkinan terjadinya penyakit akan lebih tinggi apabila ibu mengalami beberapa kondisi berikut: Masuk ke dalam golongan orang dengan obesitas. Tidak menerapkan prinsip hidup sehat. Mempunyai kondisi prediabetes sebelum kehamilan. Memiliki pengalaman melahirkan bayi yang beratnya lebih dari 4 kg. Mengidap PCOS. Diagnosis Diabetes Gestasional Dokter akan menetapkan diagnosis terkait masalah ini setelah pasien menjalani Tes Toleransi Glukosa Oral tahap awal dan akhir. Pada tes awal, dokter akan memantau level gula darah pasien setelah sebelumnya diberikan konsumsi minuman dengan glukosa (tanpa puasa). Hasil yang melaporkan level mencapai 140 mg/dL, maka pasien akan melanjutkan ke tes akhir.  Pada tes akhir ini, pasien akan diberikan minuman glukosa setelah puasa setidaknya 8 jam. Dokter akan mengecek gula darah setiap dua atau tiga jam sekali. Apabila hasil pemeriksaan memperlihatkan kadar gula yang tinggi pada dua tes, maka pasien memiliki diabetes gestasional.[3] Gejala Gejala baru akan terasa ketika lonjakan gula darah sudah terlampau tinggi, seperti: Mudah sekali haus. Lebih sering bolak-balik kamar mandi untuk kencing. Mulut terasa lebih kering. Tubuh sering kali lelah dan letih. Muncul rasa gatal di area alat kelamin. Pandangan kabur dan buram. Pengobatan Apakah diabetes gestasional bisa sembuh? Ya, masalah ini bisa teratasi dengan sendirinya pasca melahirkan. Namun, bagi ibu yang mengalami keluhan dengan intensitas cukup mengganggu, dokter akan memberikan penanganan sehingga kondisi ibu membaik. Penanganan diabetes gestasional pada ibu hamil umumnya dilakukan dengan modifikasi gaya hidup menjadi lebih sehat. Namun, dalam kasus yang lebih serius, penggunaan obat-obatan juga akan dokter rekomendasikan untuk meningkatkan kesehatan dengan lebih efisien. Berikut penjelasannya: 1. Pembatasan Pilihan Makanan Fokus dalam pengobatan adalah menekan kadar glukosa dalam darah, yang berarti pilihan makanan untuk si ibu akan dibatasi. Pembatasan ini meliputi: Pemilihan sumber karbohidrat yang lebih sehat, seperti beras cokelat, roti gandum, ubi, dan oats. Pengurangan asupan makanan dan minuman yang mengandung banyak gula, seperti soda, sirup, dan minuman kemasan. Pemilihan kudapan yang lebih sehat dan bebas garam, seperti kacang-kacangan, yogurt, dan juga buah-buahan. 2. Olahraga Rutin Tubuh yang aktif akan membantu menjaga berat badan tubuh serta mengurangi resistensi tubuh terhadap insulin sehingga gula darah dapat lebih terkontrol. Oleh karena itu, selama kehamilan, ibu dianjurkan untuk melakukan aktivitas fisik selama minimal 30 menit.[4][5] 3. Konsumsi Obat Apabila kondisi tidak semakin baik setelah satu atau dua minggu penerapan gaya hidup yang lebih sehat, dokter akan merekomendasikan pemakaian obat untuk mengontrol gula darah. Obat yang diberikan bisa berupa tablet seperti metformin atau suntikan insulin.[6] Pencegahan Tindakan preventif perlu Anda lakukan jauh-jauh hari sebelum program kehamilan. Mulailah dengan melakukan hal-hal ini: Menjauhi santapan yang tidak sehat, seperti hidangan berlemak, tinggi sodium, tinggi gula, goreng-gorengan, dan juga produk cepat saji. Melakukan olahraga setidaknya 30 menit sehari, baik dengan jalan sehat, bersepeda, renang, atau pergi ke gym. Jaga berat badan yang ideal. Jika Anda merasa mengalami obesitas, ada baiknya menjalani diet sehat terlebih dahulu. Diabetes gestasional mungkin terdengar menakutkan, tetapi dengan penanganan dan perhatian yang baik, ibu dan janin dapat tetap sehat hingga waktu persalinan. Belanja Sehat dan Hemat di Sido Muncul Store! Dapatkan poin reward pada setiap pembelian, kumpulkan point dan tukarkan dengan potongan harga! Semakin banyak poin, semakin hemat belanja! Yuk, kunjungi Sido Muncul Store sekarang!
Baca SelengkapnyaBaca Selengkapnya
Bedah Tuntas Diabetes Tipe 2: Penyebab, Gejala, dan Perawatannya
Kesehatan15 NOV 2024

Bedah Tuntas Diabetes Tipe 2: Penyebab, Gejala, dan Perawatannya

Semakin buruknya gaya hidup yang Anda miliki, seperti makan-makanan yang tidak sehat, tidak menjaga berat badan, serta malas berolahraga, akan memperbesar risiko munculnya diabetes tipe 2. Dampak dari penyakit ini lebih dari sekadar rasa haus dan juga kelelahan yang tak tertahankan. Dalam kondisi yang parah, Anda berisiko mengalami kebutaan, kerusakan saraf, masalah ginjal, serta amputasi bagian tubuh. Ayo, pelajari lebih dalam tentang diabetes tipe 2 dan temukan cara mencegahnya agar Anda tetap terlindungi dari risiko berbahaya ini! Apa Itu Diabetes Tipe 2? Gangguan ini adalah keadaan di mana tubuh menyimpan kadar gula melebihi ambang yang seharusnya. Lebih tepatnya, di atas 200 mg/dL pada tes gula darah sewaktu. Tingginya konsentrasi gula ini dipengaruhi oleh kemampuan sel tubuh yang tidak mampu merespon secara baik hormon insulin. Bahasa familiernya, tubu mengalami resistensi. Penyebab Kegagalan tubuh dalam merespon insulin pada diabetes tipe 2 disebabkan oleh penumpukan lemak terutama di sekitar area perut serta tingginya glukosa dalam darah. Kondisi ini bisa terjadi karena kebiasaan buruk, seperti: Konsumsi Makanan yang Kurang Baik untuk Tubuh Makanan yang dimaksud adalah karbohidrat olahan yang rendah serat, misalnya roti dari tepung putih, nasi putih, kerupuk, dan juga pasta. Di samping itu, termasuk juga minuman berpemanis dan makanan yang mengandung lemak jenuh seperti makanan instan. Malas Olahraga Ketika Anda tidak banyak bergerak dan jarang berolahraga, tubuh akan menyimpan kelebihan energi yang didapat dari makanan dalam bentuk lemak.[1] Kombinasi antara kebiasaan makan yang tidak sehat dan kurangnya olahraga ini juga dapat menyebabkan obesitas. Sebagai informasi, sekitar 85% orang dengan diabetes tipe 2 juga mengalami obesitas. Hal menunjukkan pola hidup cukup berdampak pada kondisi ini.[2] Apa Perbedaan antara Diabetes Tipe 1 dan Tipe 2? Sama-sama berkaitan dengan kadar gula darah yang terlampau tinggi, ini perbedaan antara diabetes tipe 1 dan 2: 1. Penyebab  Apabila diabetes tipe 2 muncul akibat kelalaian pribadi yang tidak bisa menjaga kesehatan tubuh, diabetes tipe 1 terjadi karena autoimun yang menyerang pankreas dan mengganggu produksi insulin.  2. Usia Pengidap Kedua jenis diabetes ini bisa menyerang siapa saja tanpa melihat usia. Namun, pada diabetes tipe 2, kondisi penyakit ini lebih banyak dijumpai pada orang dewasa di usia pertengahan, yakni 45 tahun ke atas.[3]  Sementara pada diabetes tipe 1, kondisi lebih banyak dialami anak-anak usia 10 hingga 14 tahun.[4] Dari keseluruhan total kondisi diabetes yang ditemukan pada anak-anak, 98% adalah diantaranya adalah diabetes tipe 1.[5] 3. Metode Pengobatan Pada pasien diabetes tipe 2, perawatan yang diberikan adalah modifikasi gaya hidup serta konsumsi obat-obatan yang meningkatkan sensitivitas sel terhadap insulin. Sementara itu, pada diabetes tipe 1, pengobatan yang dijalankan adalah suntikan insulin seumur hidup karena kondisi ini tidak dapat diobati. Gejala Diabetes Melitus Tipe 2​ Berikut beberapa gejala Diabetes Melitus tipe 2​ yang sering seseorang alami: Sering merasa haus dan lapar. Sering bolak balik kamar mandi untuk buang air kecil. Proses penyembuhan luka memerlukan waktu yang cukup lama. Pandangan mata yang buram. Tubuh mudah lelah dan letih. Kaki dan tangan sering kesemutan. Ketiak dan leher menggelap. Perawatan Diabetes Melitus Tipe 2 Dalam proses perawatan pasien, pendekatan yang akan penderita peroleh adalah perawatan medis serta perubahan gaya hidup, seperti: 1. Konsumsi Obat Pasien akan mengonsumsi obat-obatan yang dapat meningkatkan kondisi tubuh, seperti golongan obat: Meglitinides: Memicu produksi insulin. Sulfonylureas: Menurunkan gula darah. Penghambat DPP-4: Menghambat enzim yang berfungsi memecah karbohidrat menjadi gula. 2. Penyesuaian Pilihan Makanan Asupan makanan akan difokuskan pada pilihan yang kaya serat dan rendah lemak, sambil membatasi konsumsi karbohidrat dan juga gula. Contohnya, sarden, salmon, apel, alpukat, brokoli, tomat, dan juga wortel. 3. Olahraga  Guna menghindari penimbunan lemak, olahraga menjadi satu aktivitas wajib yang harus penderita lakukan secara rutin, setidaknya setengah jam sehari. Contohnya, jalan sehat, aerobik, berlari, atau berenang. Tindakan Preventif Dengan statusnya sebagai penyebab kematian tertinggi ketiga di Indonesia, wajar jika Anda merasa waspada terhadap penyakit ini. Untuk mencegahnya, berikut beberapa langkah yang dapat Anda lakukan: 1. Buat Kebiasaan Makan yang Sehat Fokuskan diet Anda pada makanan yang rendah kalori, sedikit lemak, serta minim gula. Selain itu, kurangi konsumsi daging merah serta makanan instan. 2. Jaga Berat Badan Mengingat obesitas akan meningkatkan potensi penyakit ini, sangat penting bagi Anda untuk memiliki berat badan yang ideal.  Jika Anda memiliki berat badan berlebih, mulailah menjalani program olahraga dan diet untuk menurunkannya. 3. Tidak Merokok Kebiasaan satu ini dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2 sebesar 30% hingga 40%.[6] Temukan kebiasaan yang lebih bermanfaat untuk kesehatan daripada merokok, seperti olahraga. Diabetes tipe 2 merupakan kondisi serius yang menghantui individu yang hidup dengan gaya hidup tidak sehat. Maka dari itu, mulailah untuk menjalani hidup yang lebih aktif dan sehat demi mencegah penyakit ini. Belanja Sehat dan Hemat di Sido Muncul Store! Dapatkan poin reward pada setiap pembelian, kumpulkan point dan tukarkan dengan potongan harga! Semakin banyak poin, semakin hemat belanja! Yuk, kunjungi Sido Muncul Store sekarang!
Baca SelengkapnyaBaca Selengkapnya
Diabetes Tipe 1: Menggali Lebih Dalam tentang Penyebab dan Gejalanya
Kesehatan15 NOV 2024

Diabetes Tipe 1: Menggali Lebih Dalam tentang Penyebab dan Gejalanya

Saat membahas tentang diabetes, orang sering kali menghubungkan kondisi ini dengan kebiasaan makan yang buruk. Padahal tidak semua penyakit diabetes dipicu oleh makanan, seperti pada kasus diabetes tipe 1.  Apa yang dimaksud dengan diabetes tipe 1 dan bagaimana perbedaannya dengan diabetes tipe 2? Temukan penjelasan lengkapnya di sini! Mengenal Diabetes Tipe 1 Kondisi ini merupakan keadaan di mana tubuh tidak mampu mencukupi kebutuhan insulin, baik karena jumlahnya yang sedikit atau bahkan tidak sama sekali. Absennya insulin dalam tubuh ini lantas akan membuat gula darah tidak dapat masuk ke sel-sel tubuh dan hanya berdiam di aliran darah.  Tanpa penanganan yang tepat, kondisi ini bisa menjadi ancaman serius, bahkan membawa kematian. Yang lebih menyedihkan, anak-anaklah yang paling rentan mengalami penderitaan ini. Secara statistik sendiri, kondisi ini hanya mencakup 5% - 10% dari keseluruhan kasus diabetes, sehingga wajar jika masih banyak masyarakat yang belum sepenuhnya mengenalnya.[1] Penyebab Diabetes Tipe 1 Bukan karena kebiasaan makan yang jelek atau tidak sehat, kondisi ini hadir karena imun yang seharusnya melindungi tubuh justru menyerang organ pankreas.  Dampaknya, sel-sel dari pankreas yang seharusnya bekerja menghasilkan insulin menjadi tidak dapat bekerja dengan baik. Hasilnya, jumlah insulin dalam tubuh menjadi sangat rendah bahkan tidak ada sama sekali. Hingga kini, ada dua faktor utama yang diyakini memicu kondisi autoimun ini, yakni kerentanan genetik serta  infeksi virus dari lingkungan sekitar.[2] Apa Perbedaan Diabetes Tipe 1 dan Tipe 2? Walaupun sama-sama berhubungan dengan kondisi gula darah yang melampaui batas normal dalam tubuh, ada sejumlah hal yang menjadi perbedaan antara diabetes tipe 1 dan 2, yakni: 1. Pemicunya Pada tipe 1, genetik serta infeksi virus adalah penyebab utamanya. Hal inilah yang membuat kondisi ini sangat tidak adil bagi penderitanya karena penyakit ini datang dari hal-hal di luar kemampuan mereka untuk mengontrolnya.  Dengan kata lain, seseorang dapat terlahir dengan kecenderungan genetik tertentu atau terpapar virus tanpa pilihan, yang mengarah pada munculnya diabetes tipe 1. Hal ini berbeda pada kasus diabetes tipe 2, di mana kebiasaan hidup yang tidak sehat dari penderita adalah pemicu utamanya. 2. Golongan Usia Pengidap Pada diabetes tipe 2, usia penderita paling banyak berada di angka 45 tahun ke atas.[3]  Di sisi lain, umur penderita diabetes tipe 1 lebih banyak dijumpai usia anak-anak, yakni usia 10 hingga 14 tahun.[4] Namun, bukan berarti orang dewasa tidak bisa mengidap kondisi ini, karena kondisi ini menyerang segala usia. 3. Metode Pengobatan Penderita diabetes tipe 1 harus mengandalkan suntikan insulin seumur hidup, sementara pada tipe 2, obat-obatan dan penyesuaian gaya hidup sudah dapat membantu memulihkan kondisi penderitanya. Gejala Diabetes Berikut beberapa gejala yang biasanya sering seseorang alami: Berat badan yang tiba-tiba menurun. Sulit menahan rasa haus. Hasrat untuk buang air kecil semakin sering bahkan mengompol. Tubuh terasa lebih mudah lelah. Ada keinginan untuk terus menerus makan. Pandangan mata yang sulit fokus dan buram. Penanganan Diabetes Tipe 1 Penyakit ini bukan suatu kondisi yang bisa disembuhkan. Namun, jangan putus asa dulu! Penderitanya masih dapat hidup dengan tenang dan nyaman, lewat injeksi insulin. Setiap hari penderita harus mengecek kadar gula dan menerima injeksi hormon guna menjaga konsentrasi  gula dalam darah. Oleh karena itu, pada umumnya, tim medis akan mengajarkan pasien dan keluarga cara melakukan suntikan ini secara mandiri tapi tetap sesuai dengan dosis dari dokter. Langkah Preventif Sampai saat ini, belum ada metode pasti untuk mencegah kondisi ini. Hal ini karena penyebab pasti penyakit ini masih belum diketahui dengan jelas.  Meskipun ada dugaan kuat bahwa kemunculan autoimun merupakan dampak dari faktor genetik, namun faktor genetik ini sendiri pun bukan suatu hal yang bisa diubah atau dimodifikasi dengan mudah. Lalu, apa yang harus dilakukan? Walaupun efektivitasnya masih diragukan, tidak ada salahnya jika Anda mencoba beberapa langkah ini: Menjaga Kebersihan Lingkungan Mengingat bahwa infeksi virus diyakini berkontribusi pada kondisi ini, penting bagi Anda untuk menjaga kebersihan lingkungan rumah. Selain itu, pastikan juga untuk memperhatikan kebersihan Anda di tempat umum dengan tidak sembarangan menyentuh barang atau mengonsumsi makanan yang kurang higienis. Menerapkan Gaya Hidup Sehat Pilihan lainnya, Anda dapat menerapkan gaya hidup sehat. Ini termasuk rutin aktif secara fisik, menghindari makanan tinggi gula dan karbohidrat berlebihan, serta menjauhi kebiasaan buruk seperti merokok dan konsumsi alkohol.  Dengan kondisi tubuh yang prima, tubuh akan menjadi lebih tahan terhadap serangan penyakit.  Diabetes tipe 1 adalah kondisi serius yang tidak boleh Anda abaikan. Jika Anda atau orang terdekat mengalami gejala yang mencurigakan, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan bantuan yang Anda perlukan. Belanja Sehat dan Hemat di Sido Muncul Store! Dapatkan poin reward pada setiap pembelian, kumpulkan point dan tukarkan dengan potongan harga! Semakin banyak poin, semakin hemat belanja! Yuk, kunjungi Sido Muncul Store sekarang!
Baca SelengkapnyaBaca Selengkapnya
Apa Itu Diabetes Insipidus? Kenali Penyebab dan Gejalanya
Kesehatan14 NOV 2024

Apa Itu Diabetes Insipidus? Kenali Penyebab dan Gejalanya

Diabetes bukan hanya tentang gula darah atau resistensi insulin. Ada juga Diabetes Insipidus, yang berbeda karena penyebabnya tidak mempunyai kaitan dengan kadar gula darah.  Yuk cari tahu lebih dalam tentang apa itu Diabetes Insipidus, gejala-gejalanya, serta cara pengobatannya. Mengenal Diabetes Insipidus Kondisi ini merupakan keadaan di mana tubuh mudah sekali merasa haus dan  tidak bisa menahan keinginan untuk kencing. Jika normalnya seseorang hanya membuang sekitar 2 liter air seni, pada kondisi ini, penderita bisa mengeluarkan 3 sampai 20 liter air seni setiap hari. Dibandingkan jenis diabetes lain yang lebih dikenal, kondisi ini memang terdengar kurang familiar di telinga. Ini wajar karena kejadiannya sendiri sangat jarang, hanya dialami sekitar 1 dari 25.000 orang.[1] Apa yang Menyebabkan Terjadinya Diabetes Insipidus? Secara garis besar, kondisi ini muncul karena rendahnya hormon vasopresin yang diproduksi dan diserap oleh tubuh. Sebagai informasi, hormon ini mempunyai fungsi mengontrol hasrat untuk buang air kecil.  Tidak tercukupinya hormon ini dalam tubuh bisa disebabkan oleh banyak faktor, tergantung pada klasofikasi diabetes yang penderita alami.  Insipidus Sentral Sebab awal kondisi ini adalah kerusakan di area belakang otak yang mempunyai peran dalam mengatur pelepasan hormon, termasuk hormon vasopresin. Adapun beberapa hal yang bisa memicunya  adalah infeksi, tumor, dan juga tersumbatnya pembuluh darah. Akibatnya, hipotalamus tidak bisa bekerja dengan baik dalam memenuhi kebutuhan tubuh akan hormon vasopresin. Dampaknya, tubuh menjadi tidak mampu menahan kencing lebih lama.[2] Insipidus Nefrogenik Penyebab Diabetes Insipidus jenis ini adalah ketidakmampuan ginjal dalam merespon hormon vasopresin. Kondisi organ ginjal yang tidak lagi sehat, tinggi level kalsium, hingga konsumsi beberapa jenis obat-obatan, seperti lithium,  demeclocycline, dan  ofloxacin, adalah penyebabnya.[3] Insipidus Gestasional Sesuai namanya, permasalahan ini hanya akan dihadapi oleh wanita yang sedang mengandung. Pemicunya adalah produksi enzim dari pastena yang menghancurkan hormon vasopresin. Masalah kesehatan ini termasuk sangat langka. Hanya 2 hingga 4 orang dari 100.000 wanita hamil yang mengalaminya.[4] Insipidus Dipsogenik Pada keadaan medis ini, malfungsi pengatur rasa haus di hipotalamus menjadi penyebabnya. Gangguan ini tidak dipicu oleh pola makan, namun lebih banyak dikaitkan dengan gangguan kejiwaan atau psikosis.[5] Apa Perbedaan dari Diabetes Melitus dan Diabetes Insipidus? Seperti yang telah dijelaskan, Diabetes Insipidus disebabkan oleh jumlah hormon vasopresin. Hal ini tentu saja tidak sama dengan diabetes melitus, di mana pemucinya adalah kadar glukosa darah serta insulin. Gejala Diabetes Insipidus Walaupun diagnosis pasti hanya bisa dilakukan oleh dokter, ada beberapa tanda yang bisa Anda perhatikan untuk mewaspadai kondisi kesehatan ini, seperti:  Badan terasa lesu. Mengalami keinginan kencing yang lebih intens di malam hari. Mengeluarkan air seni melebihi batas normal, yakni 2 liter per hari. Mengompol. Merasakan haus yang tidak tertahankan. Nafsu makan yang terganggu karena sering minum. Tubuh terasa nyeri. Warna air seni yang pucat. Pengobatan Diabetes Insipidus Cara mengatasi masalah kesehatan ini cukup bervariasi. Tindakan yang dilakukan akan disesuaikan berdasarkan dengan jenis diabetes yang penderita alami. Insipidus Sentral Perawatan melibatkan medikasi dengan obat sintetis analog hormon vasopresin arginin (desmopressin) yang akan mengisi defisit hormon vasopresin si tubuh. Obat ini tersedia dalam bentuk pil, suntikan, dan juga semprotan hidung. Insipidus Nefrogenik Medikasi menggunakan obat hormon seperti desmopressin tidak efektif pada kondisi ini karena fungsi ginjal yang terganggu. Maka dari itu, perawatan yang diterapkan biasanya adalah pengurangan asupan garam untuk meminimalisir produksi urin. Di samping itu, jika masalah ini muncul akibat konsumsi obat, dokter akan menghentikan penggunaan obat tersebut. Insipidus Gestasional Sama seperti pengobatan pada kasus Diabetes Insipidus Sentral, penderita kondisi ini juga akan mengonsumsi desmopressin yang aman untuk ibu hamil dan janin. Insipidus Dipsogenik Penanganan melibatkan penyembuhan kondisi jiwa yang menjadi pemicu. Penderita juga dianjurkan untuk mengurangi asupan cairan, membatasi makanan pedas dan asin, dan menghentikan konsumsi alkohol. Pencegahan Diabetes Insipidus Walaupun kasus ini jarang terjadi, tidak ada salahnya untuk tetap melakukan pencegahan. Salah satu caranya adalah dengan menjaga kesehatan ginjal, seperti: Mengurangi Konsumsi Obat yang Berdampak pada Kesehatan Ginjal Salah satu cara yang bisa Anda lakukan adalah dengan mengurangi konsumsi obat-obatan dalam jangka panjang. Apabila memungkinkan, konsultasikan kepada dokter tentang kemungkinan untuk menghentikan konsumsi obat dan menggantinya dengan perawatan lain. Mengurangi Konsumsi Makanan Asin Konsumsi garam memang perlu karena tubuh tidak bisa memproduksi senyawa ini. Namun, konsumsi hidangan dengan kandungan garam yang tinggi terlalu sering juga tidak baik karena dapat membuat ginjal bekerja lebih keras saat menyaring racun dalam darah. Jumlah konsumsi garam yang baik adalah tidak lebih dari satu sendok teh. Mengikuti saran ini, Anda dapat memperkirakan takaran garam yang tepat untuk dimasukkan ke dalam hidangan Anda.[6] Jika Anda atau orang terdekat mengalami gejala seperti sering buang air kecil dan mudah merasa haus, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga medis guna mengecek kemungkinan Diabetes Insipidus. Memastikan diagnosis lebih awal dapat mempercepat proses perawatan yang Anda butuhkan. Belanja Sehat dan Hemat di Sido Muncul Store! Dapatkan poin reward pada setiap pembelian, kumpulkan point dan tukarkan dengan potongan harga! Semakin banyak poin, semakin hemat belanja! Yuk, kunjungi Sido Muncul Store sekarang!
Baca SelengkapnyaBaca Selengkapnya
Mual tapi Tidak Muntah? Ini 9 Penyebab & Cara Mengatasinya
Kesehatan14 NOV 2024

Mual tapi Tidak Muntah? Ini 9 Penyebab & Cara Mengatasinya

Mual tapi tidak muntah merupakan keluhan yang sering dialami banyak orang. Kondisi ini umumnya tidak perlu Anda khawatirkan kerap dipicu oleh gangguan kesehatan ringan yang sifatnya sementara. Inilah sebabnya rasa mual ini kerap datang mendadak dan mereda, begitu akar masalahnya ditangani. Ingin tahu masalah kesehatan apa yang bisa menyebabkan mual tanpa muntah? Yuk, simak penyebab dan cara mengurangi mualnya di sini! Kenapa Mual tapi Tidak Muntah? Berbagai masalah kesehatan yang bersifat sementara bisa memicu kondisi ini, beberapa di antaranya:  1. Dehidrasi Meski dehidrasi tidak secara langsung memicu mual, kondisi ini dapat menimbulkan rasa pusing, yang pada akhirnya memicu rasa mual. Beberapa hal yang bisa membuat Anda dehidrasi adalah diare, keringat yang berlebih karena aktivitas padat, serta meningkatnya frekuensi buang air kecil yang tidak diimbangi dengan konsumsi air. 2. Asam Lambung yang Naik Terasa mual tapi tidak muntah pertanda apa? Jika mual terjadi setelah Anda menyantap makanan asam atau pedas, berbaring usai makan, atau minum soda atau kopi, kondisi ini mungkin diakibatkan oleh naiknya asam lambung. Makanan pedas dan asam dapat mengiritasi lambung. Sementara itu, minum kopi dan kebiasaan langsung berbaring setelah makan bisa melemaskan dan menekan katup antara lambung dan kerongkongan, sehingga asam lambung mudah naik dan menyebabkan mual. 3. Masuk Angin Mual tapi tidak muntah dan pusing juga dapat Anda alami ketika mengalami masuk angin. Kondisi ini sering muncul saat imunitas tubuh menurun, apalagi jika Anda melakukan banyak aktivitas dan terpapar udara dingin. Pada kondisi ini, umumnya Anda juga akan merasakan badan yang pegal-pegal, perut kembung, dan demam. 4. Mabuk Perjalanan Ketika rasa mual muncul secara tiba-tiba ketika Anda berada di bus, mobil, atau kapal, itu tandanya Anda sedang mengalami mabuk perjalanan. Selain mual, umumnya Anda juga akan merasakan pusing. Kondisi ini memang lebih umum terjadi pada anak-anak usia 2 hingga 12 tahun. Namun, pada orang dewasa, faktor seperti menstruasi, kehamilan, atau sakit kepala juga dapat memicunya.[1] 5. Hamil Muda Mual tapi tidak muntah saat hamil sering dialami oleh ibu hamil di awal-awal kehamilan, yakni di minggu ke-6 hingga ke-8. Kondisi ini terjadi karena adanya perubahan hormon pada tubuh wanita hamil. Kondisi ini akan segera membaik begitu memasuki minggu ke-16 atau minggu ke-20.[2] 6. Stres Saat stres melanda, otak akan melepaskan sejumlah molekul kimia agar tubuh bersiap menghadapi “bahaya”. Permasalahannya, terkadang zat-zat ini masuk ke dalam sistem pencernaan dan mengganggu fungsinya. Oleh karena itu, Anda akan merasakan sakit perut atau mual ketika stres.[3] 7. Tubuh yang Kelelahan Sering mual tapi bukan hamil? Mungkin Anda terlalu memforsir tubuh Anda untuk beraktivitas. Pada kondisi tubuh yang kelelahan, tubuh akan menghasilkan hormon kortisol. Perubahan keseimbangan hormon dalam tubuh ini kemudian akan memicu asam lambung sehingga sangat wajar jika Anda merasakan mual. 8. Minum Alkohol Minuman dengan kandungan alkohol di dalamnya dapat mendorong produksi cairan asam yang lebih banyak di lambung. Hal ini dapat menyebabkan lambung menjadi teriritasi, sehingga Anda akan merasakan rasa perih di perut dan sensasi mual. 9. Reaksi dari Obat Apabila Anda sedang berada dalam pengobatan yang mengharuskan konsumsi obat seperti antibiotik, antidepresan, atau pereda nyeri, kondisi mual Anda mungkin dipengaruhi dari konsumsi obat-obatan ini.  Reaksi ini tidak berbahaya dan cukup normal. Namun, jika Anda merasa sangat tidak nyaman, pertimbangkanlah untuk berkonsultasi dengan dokter guna mencegah masalah yang lebih serius. Cara Mengurangi Mual tapi Tidak Muntah Cara mengatasi ingin muntah tapi tidak keluar adalah dengan mengatasi akar masalahnya terlebih dahulu, seperti: 1. Menyantap Camilan Pada kasus asam lambung yang naik, mabuk perjalanan, kehamilan, hingga stres, menyantap camilan bisa mengurangi rasa mual. Pilih camilan yang tidak mengiritasi lambung, seperti biskuit atau kacang, dan hindari yang masam atau pedas.  Sementara untuk mengatasi stres, pilihlah camilan manis yang bisa mengurangi stres serta membuat Anda lebih tenang. 2. Beristirahat Pada kondisi tubuh yang kelelahan, Anda perlu mengambil waktu istirahat agar rasa mual membaik. Anda bisa duduk dengan punggung tegak untuk meredakan mual tersebut.  Sambil beristirahat Anda juga bisa menikmati secangkir teh hangat. Wangi teh akan membuat tubuh Anda lebih rileks, sementara sensasi hangatnya membuat nyaman perut yang mual.[4] 3. Mengonsumsi Sido Muncul Jamu Tolak Angin Dengan kandungan jahe dan mint, Sido Muncul Jamu Tolak Angin bisa mengurangi gejala masuk angin yang Anda alami, termasuk rasa mual yang mengganggu.  Jahe memiliki senyawa yang mempercepat pengosongan lambung, sementara mint memberikan efek rileks pada tubuh sehingga kombinasi keduanya dapat meredakan mual. Bukan hanya itu, sensasi hangatnya juga akan membuat perut Anda lebih nyaman. Mual tapi tidak muntah membuat Anda terganggu? Andalkan Sido Muncul Jamu Tolak Angin! Herbal praktis yang aman untuk bantu redakan mual Anda. Belanja Sehat dan Hemat di Sido Muncul Store! Dapatkan poin reward pada setiap pembelian, kumpulkan point dan tukarkan dengan potongan harga! Semakin banyak poin, semakin hemat belanja! Yuk, kunjungi Sido Muncul Store sekarang!
Baca SelengkapnyaBaca Selengkapnya
10 Cara Mengatasi Keringat Dingin secara Alami dan Mencegahnya Muncul Lagi
Kesehatan13 NOV 2024

10 Cara Mengatasi Keringat Dingin secara Alami dan Mencegahnya Muncul Lagi

Keringat dingin memang bukan keringat yang muncul ketika Anda kelelahan, namun kemunculannya tetap bisa membuat badan Anda bau dan baju jadi basah. Supaya kondisi ini tak mengganggu kenyamanan, ada sejumlah cara mengatasi keringat dingin secara alami agar kondisi ini tidak lagi mengganggu Anda. Apa saja? Cara Mengatasi Keringat Dingin Ada banyak kondisi kesehatan yang melatarbelakangi munculnya keringat dingin, seperti penyakit jantung, alergi, hipotensi, masuk angin, hipoglikemia, stres, dan juga cemas. Menyesuaikan dengan kondisi yang memicunya, berikut sejumlah cara alami untuk mengatasinya: 1. Mengonsumsi Air Mineral Menghidrasi tubuh dengan air mineral dapat mendinginkan tubuh, sehingga produksi keringat dapat berkurang. Namun Anda sebaiknya menghindari konsumsi kafein atau alkohol karena keduanya bisa meningkatkan ritme detak jantung, yang merangsang keringat. 2. Mengonsumsi Makanan Manis Pada kondisi gula darah yang rendah, mengonsumsi makanan atau minuman manis dapat mengurangi gejalanya, seperti tubuh gemetar dan berkeringat. Beberapa pilihan makanan yang bisa Anda konsumsi adalah permen, madu, cokelat, pisang, hingga apel. 3. Mengatur Napas Kondisi keringat yang muncul akibat rasa cemas dan stres bisa Anda kurangi dengan mengatasi rasa stres dan cemas terlebih dahulu. Cara paling mudah untuk Anda lakukan adalah mengatur napas.  Tarik napas secara dalam kemudian hembuskan dalam tempo yang pelan dan teratur. Selain mengurangi stres dan cemas, metode ini juga bisa mengatur detak jantung Anda.[1] 4. Menghirup Wewangian Aroma tertentu dapat mengurangi tingkat stres dan secara tak langsung berperan dalam menekan keringat dingin yang muncul akibat stres.[2] Beberapa jenis aroma yang bisa Anda gunakan adalah aroma bunga melati, lavender, kamomil, dan juga bergamot. Keempatnya memiliki sifat antistres yang bisa mengurangi pikiran kalut Anda.[3] 5. Membuat Ruangan Lebih Dingin Cara mengatasi keringat dingin di malam hari dapat Anda lakukan dengan membuat kamar tidur Anda lebih dingin, baik dengan pendingin ruangan atau kipas angin. Pasalnya, suhu tubuh yang lebih rendah cenderung mengurangi laju produksi keringat. Perlu dicatat, cara mengatasi keringat dingin saat tidur ini mungkin kurang cocok bagi kondisi keringat dingin yang muncul akibat masuk angin atau demam. 6. Minum Jus Tomat Apa yang harus dilakukan saat keringat dingin? Anda bisa mencoba meminum jus tomat murni.  Tomat mengandung berbagai senyawa bioaktif yang bekerja untuk mengecilkan ukuran pori-pori kulit. Lewat karakteristiknya ini, mengonsumsi jus tomat secara rutin dapat membantu Anda mengurangi produksi keringat. 7. Mengonsumsi Makanan yang Asin Pada kasus darah rendah, makanan yang bisa mengatasi keringat dingin adalah makanan gurih. Pasalnya, makanan asin atau bergaram dapat membantu meningkatkan tekanan darah.  Namun perlu dicatat, Anda sebaiknya menghindari makanan yang mengandung santan karena bisa menaikan level kolesterol, yang buruk untuk kesehatan jantung. 8. Olahraga secara Rutin Olahraga dapat membantu Anda menjaga kesehatan jantung Anda sekaligus menaikkan suasana hati. Manfaat ini juga membantu mengatasi keringat dingin yang mungkin muncul akibat gangguan jantung atau kecemasan yang berlebihan. Bagi orang dewasa, disarankan untuk berolahraga sekitar 150-300 menit setiap minggunya. Artinya, Anda bisa berolahraga sekitar 30 hingga 40 menit per hari.[4] 9. Istirahat yang Cukup Istirahat yang cukup, yakni 7-9 jam sehari, dapat membantu Anda meningkatkan imunitas tubuh Anda sehingga tubuh mampu melawan virus atau bakteri dengan lebih baik. Dengan ini, Anda bisa lebih mudah mengatasi keringat dingin yang muncul akibat infeksi. 10. Mengonsumsi Sido Muncul Jamu Tolak Angin Cara mengatasi keringat dingin karena demam adalah dengan mengonsumsi Sido Muncul Jamu Tolak Angin. Dengan ramuan jahe, mint, kayu ules, buah adas, serta daun cengkih, Sido Muncul Tolak Angin bisa mengatasi berbagai gejala masuk angin, termasuk demam dan keringat dingin. Bukan hanya itu, jamu ini juga dapat menjaga kesehatan tubuh Anda sehingga tubuh tidak mudah terinfeksi bakteri atau virus penyebab penyakit.  Cara Mencegah Keringat Dingin Mencegah lebih baik daripada mengobati! Agar keringat dingin tidak terus-menerus mengusik Anda, berikut beberapa cara untuk mencegah keringat dingin: 1. Meditasi Stres dapat memicu munculnya keringat dingin. Untuk menghindari hal ini, melatih pikiran untuk tetap tenang bisa menjadi solusinya, seperti melakukan meditasi secara rutin untuk melatih ketenangan batin. 2. Menerapkan Pola Makan Sehat Menyantap makanan yang tidak sehat dapat mempengaruhi kesehatan jantung dan memicu diabetes.  Untuk menjaga kesehatan tubuh, sebaiknya kurangi konsumsi makanan manis, berlemak, bersantan, dan tinggi garam. 3. Menghindari Kebiasaan yang Merusak Tubuh Merokok dan mengonsumsi alkohol adalah dua kebiasaan yang merusak tubuh Anda. Dalam kondisi yang serius, kedua kebiasaan ini dapat memicu masalah jantung dan penyempitan pembuluh darah, yang menjadi penyebab munculnya keringat dingin.  Cara mengatasi keringat dingin secara alami di atas bisa menjadi solusi pribadi yang mudah Anda terapkan di rumah. Namun, penting untuk dicatat bahwa kondisi ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor. Untuk penanganan yang lebih efektif, konsultasi medis dan perawatan dari dokter adalah pilihan yang tepat! Belanja Sehat dan Hemat di Sido Muncul Store! Dapatkan poin reward pada setiap pembelian, kumpulkan point dan tukarkan dengan potongan harga! Semakin banyak poin, semakin hemat belanja! Yuk, kunjungi Sido Muncul Store sekarang!
Baca SelengkapnyaBaca Selengkapnya
6 Penyebab Keringat Dingin dan Badan Lemas Beserta Cara Mengatasinya
Kesehatan13 NOV 2024

6 Penyebab Keringat Dingin dan Badan Lemas Beserta Cara Mengatasinya

Cuaca sedang tidak panas dan Anda sedang tidak bergerak aktif, tetapi tubuh malah berkeringat dingin dan terasa lemas? Ada sejumlah kondisi yang menjadi penyebab munculnya keringat dingin dan badan lemas ini.  Temukan penjelasan lengkapnya di sini! Penyebab Keringat Dingin dan Lemas Baik keringat dingin maupun rasa lemas bukan merupakan penyakit, namun lebih sebagai respons tubuh terhadap suatu gangguan kesehatan yang sedang Anda alami. Berikut berikut beberapa kondisi yang dapat memicunya: 1. Hipotensi Penyebab keringat dingin, badan lemas, dan pusing adalah penurunan tekanan darah di tubuh. Kondisi ini bisa muncul secara tiba-tiba, seperti saat Anda sedang upacara bendera atau berdiri terlalu lama. Hal ini terjadi karena pasokan darah, nutrisi, dan oksigen ke otak kurang maksimal. 2. Gula Darah yang Rendah Tiba-tiba keringat dingin seperti mau pingsan? Kadar gula darah Anda mungkin turun drastis. Bagi penderita diabetes, kelebihan insulin atau konsumsi obat diabetes yang berlebihan bisa menyebabkan kadar gula darah menurun drastis. Pada kondisi ini, Anda juga akan merasakan tubuh yang gemetar, muka yang tampak pucat, pusing, dan mulut yang mati rasa. 3. Syok Cedera berat atau insiden yang mengejutkan dapat menyebabkan Anda mengalami syok. Dalam kondisi syok, tekanan darah menurun drastis dan denyut nadi menjadi tidak beraturan, membuat kulit menjadi dingin dan mulai berkeringat. 4. Masuk Angin Berkeringat dingin tanda penyakit apa? Jika Anda baru saja melakukan perjalanan panjang, terkena udara dingin, dan merasakan kelelahan, bisa jadi kondisi ini disebabkan oleh masuk angin yang diikuti demam. Saat demam, sistem imun bereaksi dengan meningkatkan suhu tubuh sebagai bentuk perlawanan terhadap kuman yang masuk. Peningkatan suhu inilah yang akan membuat Anda mengeluarkan peluh. 5. Jantung Bekerja Terlalu Berat Keluarnya peluh yang berlebih bahkan saat Anda sedang tidak melakukan aktivitas fisik bisa menjadi pertanda bahwa jantung Anda bekerja terlalu keras. Contohnya saat pembuluh darah tersumbat dan jantung harus memompa lebih kuat. 6. Efek Samping Mengonsumsi Obat Obat seperti antidepresan, obat diabetes, obat migrain, dan juga obat peradangan sering kali memberikan efek samping berupa mudah keringat, serta membuat tubuh lemas dan mengantuk.  Apabila Anda merasa terganggu oleh kondisi keringat ini, sebaiknya konsultasikan kepada dokter mengenai kemungkinan untuk mengganti jenis obat atau menyesuaikan dosis yang Anda konsumsi. Selain beberapa hal di atas, masih banyak kondisi yang dapat membuat Anda keringat dingin seperti dehidrasi, cemas yang berlebihan, takut, stres, kanker, dan gangguan tiroid.  Jangan ragu untuk melakukan pemeriksaan kesehatan menyeluruh untuk mengetahui secara pasti pemicunya. Cara Mengatasi Badan Lemas dan Keringat Dingin Untuk mengatasi kondisi ini, Anda harus lebih fokus dalam menangani hal-hal yang menjadi pemicunya. Berikut sejumlah hal yang dapat Anda lakukan: 1. Mengonsumsi Antidepresan Antidepresan dapat meningkatkan suasana hati sehingga bisa mengatasi kondisi cemas dan stres.[1] Anda memerlukan resep dari dokter untuk bisa mendapatkan obat ini. 2. Mengonsumsi Sido Muncul Jamu Tolak Angin Untuk kondisi yang disebabkan oleh masuk angin, konsumsi Sido Muncul Jamu Tolak Angin bisa meredakan gejala yang Anda rasakan. Dengan bahan-bahan seperti jahe, mint, kayu ules, dan buah adas, jamu ini dapat meredakan demam dan membantu mengurangi keringat dingin. 3. Mengatur Napas Saat merasakan syok atau kecemasan, mengatur pernapasan dengan menarik napas lebih dalam dengan tempo yang lambat dapat membantu mengatur denyut jantung dan mengurangi stres yang Anda alami.[2] 4. Minum Air Putih Konsumsi air putih dapat menurunkan suhu tubuh sehingga dapat mengurangi keluarnya peluh. Anda juga bisa mengonsumsi minuman elektrolit, seperti air kelapa dan susu, untuk melancarkan aliran darah dan melawan infeksi. 5. Menaikan Level Gula Darah Dalam keadaan gula darah rendah, mengonsumsi makanan manis dapat membantu memulihkan fungsi tubuh, seperti makan madu, pisang, atau anggur. 6. Menaikkan Tekanan Darah Pada kondisi tekanan darah rendah, makanan tinggi folat dan vitamin B12 dapat meningkatkan tekanan darah Anda. Beberapa contohnya adalah asparagus, brokoli, telur, kerang, daging sapi, dan juga alpukat. 7. Mengonsumsi Teh Herbal Dengan menikmati minuman herbal seperti jahe dan teh pepermin, Anda bisa meningkatkan daya tahan tubuh, sehingga mampu mencegah dan menyembuhkan kondisi seperti demam atau infeksi lainnya. 8. Menggunakan Antiperspiran Untuk solusi cepat sebelum melakukan pemeriksaan medis, Anda dapat mengurangi keringat dengan memakai antiperspiran. Antiperspiran bekerja dengan menutup saluran pori-pori tempat keluarnya keringat, sehingga Anda tidak perlu khawatir lagi dengan peluh berlebihan yang menempel pada pakaian.  9. Olahraga secara Rutin Aktivitas fisik membantu melancarkan peredaran darah dan meningkatkan mood Anda, menjadikannya pilihan yang sangat baik untuk mengatasi stres sekaligus menjaga kesehatan jantung. 10. Menghibur dan Menenangkan Diri Jika Anda mengalami kecemasan, luangkan waktu untuk melakukan aktivitas yang Anda anggap menenangkan dan menghibur, seperti menjalani hobi atau menjelajahi alam sekitar. Banyak hal yang bisa menjadi penyebab keringat dingin dan badan lemas. Sebelum kondisi Anda memburuk, sebaiknya temuilah dokter untuk mendapatkan penjelasan yang lebih jelas mengenai kondisi kesehatan Anda. Belanja Sehat dan Hemat di Sido Muncul Store! Dapatkan poin reward pada setiap pembelian, kumpulkan point dan tukarkan dengan potongan harga! Semakin banyak poin, semakin hemat belanja! Yuk, kunjungi Sido Muncul Store sekarang!
Baca SelengkapnyaBaca Selengkapnya
Mengenal Manfaat Kerokan Masuk Angin: Fakta atau Mitos?
Kesehatan12 NOV 2024

Mengenal Manfaat Kerokan Masuk Angin: Fakta atau Mitos?

Sebagai orang Indonesia, istilah kerokan pasti sudah tidak asing di telinga Anda. Bagaimana tidak, hampir setiap kali merasa tidak enak badan, apalagi saat masuk angin, orang tua biasanya akan mengajak kerokan sebagai solusi.  Tapi, pernahkah Anda bertanya, apakah  kerokan masuk angin memang efektif atau hanya sugesti belaka? Yuk, cari tahu! Manfaat Kerokan Masuk Angin Apakah benar kerokan bisa menghilangkan masuk angin? Meskipun masih perlu penelitian lebih dalam terkait dengan khasiatnya, faktanya, kerokan memang dapat memperbaiki kondisi tubuh yang sedang tidak enak badan, terutama karena masuk angin. Efektivitas dari metode ini tidak lepas dari reaksi yang timbul pada tubuh ketika Anda melakukan kerokan. Metodenya adalah menggosok kulit tubuh yang telah diberi minyak dengan benda seperti koin, sendok, potongan bawang, dan juga jahe. Metode ini ternyata dapat memberikan efek yang bermanfaat bagi tubuh, seperti: 1. Mengatasi Perut Kembung Kerokan saat masuk angin dapat membantu Anda mengatasi perut kembung yang menyesakan.  Bukan karena angin yang keluar dari pori-pori setelah kerokan, sebagaimana banyak orang percaya, tetapi karena peningkatan suhu tubuh akibat kerokan, yang membantu meredakan kembung dengan memberikan efek hangat. 2. Mengurangi Pegal dan Kaku di Leher Pegal dan kaku di leher umumnya disebabkan oleh otot yang menegang akibat postur jalan dan postur duduk yang buruk, serta posisi tidur yang salah. Menariknya, metode sedikit menekan pada area otot bisa memberikan efek relaksasi dan melemaskan otot yang tegang ini.[1] Nah, saat Anda melakukan kerokan di leher, prinsip kerjanya mirip—gerakan yang menekan lembut pada kulit akan membantu mengendurkan otot-otot tegang, sehingga leher terasa lebih nyaman dan bebas dari rasa nyeri. 3. Mengatasi Sakit Kepala Selain mengurangi nyeri dan kaku leher, kerokan pada area leher juga dapat mengurangi rasa sakit di kepala. Ketika Anda melakukan kerokan, pembuluh darah kapiler yang membesar akan membantu sirkulasi darah kembali lancar yang berkontribusi pada berkurangnya intensitas sakit kepala. 4. Mengatasi Meriang Meriang atau demam ringan dengan suhu tubuh yang lebih hangat dan mual juga dapat membaik dengan kerokan.  Setelah kerokan badan, aliran darah di tubuh menjadi lebih lancar, yang memudahkan distribusi oksigen dan nutrisi ke seluruh tubuh. Dengan distribusi yang optimal ini, tubuh bisa memulihkan diri lebih cepat. 5. Membuat Tidur Lebih Nyenyak Tubuh yang hangat dan nyeri yang mereda setelah kerokan adalah resep sempurna untuk tidur yang nyenyak. Anda akan bangun dengan tubuh segar dan bugar di pagi hari. Cara Kerokan Masuk Angin Agar kerokan tidak menimbulkan iritasi pada kulit atau justru menambah masalah baru, ini langkah-langkah yang tepat untuk melakukannya: Baik itu uang koin, sendok, irisan bawang, atau jahe, pastikan Anda telah membersihkannya terlebih dulu agar kuman dan kotoran tidak menginfeksi kulit. Aplikasikan minyak pada area yang sakit untuk membantu mengurangi efek gesekan, meminimalkan terjadinya iritasi pada kulit serta memberikan sensasi hangat. Anda bisa memakai minyak kayu putih, minyak telon, minyak sereh, atau minyak tawon.  Lakukan kerokan dengan cara memberikan tekanan ringan dan pastikan untuk bergerak hanya dalam satu arah. Usahakan tidak mengerok tepat di atas tulang, melainkan pilihlah sisi sampingnya untuk membantu merelaksasi otot dengan lebih baik. Hal yang Harus Dicermati sebelum Kerokan Sebelum kerokan, ada sejumlah hal yang perlu Anda perhatikan agar metode ini memberikan manfaat tanpa menimbulkan efek samping, seperti: 1. Kondisi Kulit Jika Anda bertanya kenapa orang masuk angin dikerok merah? Kulit yang kemerahan ini hadir karena gesekan di area kulit.  Pada kulit yang cukup sensitif, gesekan ini dapat membuat kulit lebih teriritasi. Untuk itu, sebaiknya orang dengan kulit sensitif mencari pilihan lain yang lebih aman ketimbang melakukan kerokan. 2. Frekuensi Kerokan Kerokan memang bisa membuat kecanduan karena sensasi relaksasinya, namun terlalu sering kerokan juga berbahaya. Anda berpotensi mengalami pecahnya pembuluh darah.[2] Pastikan Anda tidak terlalu sering memakai metode ini! 3. Minyak yang Digunakan Beberapa orang mungkin memiliki reaksi alergi terhadap jenis minyak tertentu. Pastikan bahwa minyak yang Anda gunakan cocok dan tidak menimbulkan reaksi alergi. 4. Bagian Tubuh yang Tidak Boleh Dikerok Bagian depan leher, jantung, dan perut sebaiknya tidak terkena kerokan. Pasalnya, menekan area tersebut dapat menimbulkan risiko yang mengganggu fungsi organ yang penting. Larangan setelah Kerokan Setelah kerokan, Anda sebaiknya tidak mandi atau keluar rumah. Dalam keadaan pori-pori terbuka pasca kerokan, risiko kram otot atau masuk angin mungkin meningkat ketika Anda mandi dengan air dingin. Begitu juga dengan paparan udara dingin saat keluar rumah, sebaiknya Anda hindari. Meskipun kerokan dapat meredakan gejala masuk angin, metode ini tidak selalu cocok untuk semua orang. Sebagai alternatif, Anda bisa pilih Sido Muncul Jamu Tolak Angin untuk mengatasi masuk angin. Kandungan jahe, kayu ules, serta daun cengkehnya akan berkerja dengan baik mengusir gejala masuk angin.  Jadi, tunggu apa lagi? Segera beralih ke Sido Muncul Jamu Tolak Angin dan jaga kesehatan Anda dengan cara yang lebih praktis dan aman, tidak kalah efektif dengan kerokan masuk angin! Belanja Sehat dan Hemat di Sido Muncul Store! Dapatkan poin reward pada setiap pembelian, kumpulkan point dan tukarkan dengan potongan harga! Semakin banyak poin, semakin hemat belanja! Yuk, kunjungi Sido Muncul Store sekarang!
Baca SelengkapnyaBaca Selengkapnya
15 Pilihan Jus Buah untuk Penderita Asam Lambung, Aman & Mengurangi Mual!
Kesehatan11 NOV 2024

15 Pilihan Jus Buah untuk Penderita Asam Lambung, Aman & Mengurangi Mual!

Menyertakan buah-buahan dalam diet adalah solusi alami memperbaiki gejala asam lambung.[1] Untuk menikmatinya, buah-buahan ini bisa Anda olah menjadi sajian jus yang segar, terutama di cuaca panas. Apa saja jenis jus buah untuk penderita asam lambung yang aman dikonsumsi? Kabar baiknya, Anda bisa memanfaatkan buah-buahan yang mudah ditemukan di sekitar dengan harga terjangkau. Nah, Anda bisa membuat jus buah untuk asam lambung naik dengan pilihan buah berikut: 1. Pisang Bagi Anda yang memiliki persediaan pisang di rumah, baik pisang ambon maupun pisang uli, mengolahnya sebagai minuman dengan campuran susu dapat membantu menyehatkan lambung.  Minuman ini akan bekerja mengamankan mukosa lambung dari potensi kerusakan akibat cairan asam di dalamnya. Selain itu, tingginya potassium menjadikan buah ini dapat menetralkan kondisi Anda.[2] 2. Timun Sering dijadikan sebagai lalapan, nyatanya timun juga tergolong dalam buah-buahan. Mengandung air hingga 96%, buah ini bisa melemahkan kadar asam dalam tubuh. Saat dijadikan jus, rasa buah ini mungkin tak begitu menarik. Namun, timun sendiri memiliki kelebihan lain, yaitu membantu tubuh dalam membuang racun secara alami.[3] 3. Alpukat Siapa yang tidak tergoda dengan lezatnya jus alpukat, apalagi saat dicampur cokelat atau kopi. Namun, bagi yang memiliki masalah asam lambung, sebaiknya nikmati jus ini hanya dengan tambahan madu, karena bahan lainnya bisa memperparah kondisi Anda. Penelitian terhadap konsumsi jus alpukat untuk asam lambung juga menunjukan bahwa konsumsi buah ini berperan dalam meminimalkan kerusakan pada mukosa yang melindungi dinding lambung dari cairan lambung.[4] 4. Pir Asam lambung bagusnya minum jus apa? Anda bisa mencoba jus pir. Buah ini mempunyai kadar vitamin B6 yang dapat merilekskan perut yang terasa perih sambil menghilangkan keinginan untuk muntah. 5. Semangka Pada dasarnya, konsumsi buah dengan karakteristik tinggi air sangatlah baik untuk pencernaan. Oleh karenanya mengolah buah semangka sebagai jus juga akan bermanfaat bagi asam lambung. Pasalnya buah ini mempunyai kandungan sebesar 92% air.[5] 6. Kiwi Kiwi mampu meredakan berbagai gejala gastrointestinal, termasuk nyeri yang Anda rasakan sangat menyakitkan di area ulu hati dan perut kembung yang mengganggu.[6] 7. Buah Naga Buah ini mengandung magnesium, di mana senyawa yang sama juga ada di obat antasida yang dipakai untuk asam lambung.[7] Selain itu, buah naga bersifat netral sehingga aman bagi lambung dan tidak menyebabkan iritasi. 8. Apel Merah Potasium dari buah ini akan menetralkan lambung. Oleh karena itu, konsumsi jus apel mungkin dapat membuat pencernaan Anda terasa lebih nyaman. 9. Melon Dengan rasa manis yang khas, jus melon menjadi pilihan yang sangat menggugah selera. Namun, keunggulannya tidak berhenti di situ. Kemampuan buah ini dalam menetralkan asam akan membuat perut Anda terasa lebih nyaman dan tidak perih. 10. Nanas Buah apa yang bagus untuk asam lambung? Jawabannya adalah buah nanas. Senyawa unik bromelain yang ditemukan pada buah diyakini membawa efek alkali atau menetralkan asam, sehingga ketika dicerna dalam lambung, hasilnya adalah lambung menjadi netral dan terasa lebih dingin.[8] 11. Stroberi Mempunyai kadar potasium, stroberi berperan positif dalam mengatasi gejala GERD, yakni ketika cairan lambung naik hingga ke kerongkongan.  Untuk mengatasi rasa asam yang khas dari buah ini, Anda bisa menambahkan madu dalam jus Anda. 12. Mangga Buah yang bagus untuk asam lambung lainnya adalah mangga. Dengan adanya asam askorbat, konsumsinya akan meningkatkan jumlah air liur dan lendir di lambung, yang berfungsi sebagai pelindung tubuh dari dampak cairan asam.[9] 13. Jambu Merah Sama seperti mangga, jambu merah juga mempunyai asam askorbat, bahkan kadarnya dinilai paling tinggi di antara buah-buah lainnya. Untuk pengalaman minum yang lebih menyenangkan, pastikan Anda telah menyaring biji jambu pada jus sebelum menikmatinya. 14. Manggis Daging buah manggis telah lama digunakan untuk mengobati berbagai gangguan lambung. Khasiat buah ini tidak terlepas dari tingginya kandungan antioksidan yang dapat mengurangi produksi asam lambung.[10][11] 15. Pepaya Dengan enzim papain, konsumsi pepaya matang berkontribusi pada kondisi GERD yang lebih membaik.[12] Selain konsumsi jus seperti yang direkomendasikan, penderita asam lambung juga tetap memerlukan perawatan. Caranya, Anda bisa beristirahat dalam posisi tubuh bagian atas lebih tinggi. Metode ini adalah solusi yang menghentikan pergerakan asam lambung agar tidak semakin naik ke kerongkongan. Selain itu, Anda juga bisa memanfaatkan obat Antagonis H2. Obat ini bisa langsung Anda peroleh di apotek, tapi berkonsultasi dengan dokter lebih disarankan guna menghindari kemungkinan efek samping. Konsumsi jus buah untuk penderita asam lambung di atas hanyalah opsi alami di samping konsumsi obat-obatan. Jika situasi Anda tidak menunjukkan perbaikan, pertimbangkan untuk mencari solusi medis yang lebih efektif dalam menanganinya. Belanja Sehat dan Hemat di Sido Muncul Store! Dapatkan poin reward pada setiap pembelian, kumpulkan point dan tukarkan dengan potongan harga! Semakin banyak poin, semakin hemat belanja! Yuk, kunjungi Sido Muncul Store sekarang!
Baca SelengkapnyaBaca Selengkapnya
Gula Darah Drop? Jangan Panik, Ini Cara Menaikkan Gula Darah!
Kesehatan11 NOV 2024

Gula Darah Drop? Jangan Panik, Ini Cara Menaikkan Gula Darah!

Tak hanya kadar gula darah yang tinggi yang berpotensi mengganggu kesehatan Anda, kondisi gula darah rendah atau hipoglikemia juga demikian. Pada kondisi yang parah, efek gula darah rendah bisa memicu gagal organ, henti jantung, hingga koma.   Untuk menghindari hal ini, ada cara menaikkan gula darah yang bisa Anda coba! Bagaimana Cara Menaikkan Gula Darah yang Rendah? Kondisi Anda dapat dikatakan hipoglikemia ketika hasil pengukuran menunjukkan bahwa kadar gula Anda berada di bawah kurang dari 70 mg/dL.  Untuk membantu menormalkannya, berikut beberapa langkah yang bisa Anda ambil: 1. Makan dan Minum Cara termudah untuk menaikan tingkat glukosa dalam darah Anda adalah melalui konsumsi makanan serta minuman. Pilihlah makanan dengan kandungan karbohidrat atau minuman yang manis. Karbohidrat yang tercerna dalam saluran pencernaan akan dipecah oleh tubuh menjadi gula yang kemudian akan terserap dalam darah dan disalurkan keseluruh tubuh.[1] Sementara itu, minuman atau makanan manis akan menambah asupan glukosa dalam tubuh secara langsung setelah 15 hingga 40 menit konsumsi.[2] Untuk merasakan manfaat dari cara ini, Anda bisa makan dan minum dengan metode 15-15. Apa itu? Dalam metode ini, Anda bisa mengonsumsi 15 gram makanan atau minuman. Kemudian setelah 15 menit, Anda bisa kembali mengecek gula darah dengan menggunakan glukometer. Bila gula darah tetap berada di bawah angka normal, maka Anda bisa makan  sekitar 15 gram makanan lagi hingga hasilnya tes menunjukkan lebih dari 70 mg/dL. 2. Melakukan Suntik Glukagon Cara menaikkan gula darah yang drop lainnya adalah dengan suntik glukagon. Suntikan ini merupakan perawatan darurat bagi penderita diabetes dengan level gula darah turun jauh dari batas normal. Anda dapat memperoleh perawatan ini di klinik atau rumah sakit terdekat. Tak hanya itu, beberapa tenaga medis juga siap mengajarkan cara menggunakan alat suntik ini, sehingga Anda bisa menanganinya sendiri di rumah dalam keadaan darurat. Pilihan Makanan untuk Menaikan Gula Darah  Cara menaikkan gula darah rendah yang paling mudah adalah melalui konsumsi makanan dan minuman. Ini sejumlah pilihan makanan yang bisa Anda coba: 1. Buah-buahan Seperti yang telah disebutkan keberadaan karbohidrat sangat penting selama kondisi ini. Sebagai pilihan, Anda bisa mengonsumsi buah dengan kandungan karbohidrat. Beberapa buah yang bisa Anda konsumsi sesuai perhitungan 15 gram karbohidrat yang direkomendasikan adalah:  15 Biji anggur 1 Apel ukuran kecil 1 Kiwi ukuran besar 1 Mangkuk kecil melon 1 Mangkuk semangka 1 Pir ukuran kecil 1 Pisang ukuran kecil ½ Mangga ½ Pepaya ¾ Mangkuk nanas 2. Roti dan Kue Roti termasuk jenis karbohidrat komplek, di mana proses pencernaannya memerlukan waktu lebih lama di dalam tubuh. Dengan karakternya ini, roti bisa membantu tubuh meningkatkan gula secara perlahan dan stabil.  Di bawah ini adalah beberapa pilihan jenis roti dan kue yang bisa Anda konsumsi dalam perhitungan yang direkomendasikan: 1 Bolu kecil 1 Croissant kecil 1 Donat polos 1 Irisan Roti Tawar 1 Muffin 1 Pancake 1 Waffle 3 Keping biskuit 3. Pasta Semua jenis pasta dapat membantu Anda menaikan kadar gula. Namun demikian jenis pasta yang direkomendasikan adalah jenis pasta gandum utuh atau yang terbuat dari tepung lentil, buckwheat, atau kacang polong karena mempunyai lebih banyak serat. Serat ini akan membantu menjaga kadar gula darah Anda tetap stabil. Untuk memperoleh 15 gram karbohidrat dari pasta, Anda bisa menikmati sekitar sepertiga mangkuk pasta yang telah masak. 4. Sayur Sayuran dengan kandungan karbohidrat juga bisa menjadi pilihan, terlebih jika Anda ingin opsi makanan yang lebih sehat dan juga mengenyangkan. Berikut adalah beberapa pilihan sayuran untuk menaikkan gula darah yang bisa Anda nikmati: ½ Mangkuk ubi ½ Mangkuk kentang ½ Mangkuk kacang polong ½ Mangkuk jagung 1 Mangkuk labu Selain makanan-makanan di atas, dalam situasi darurat, Anda juga bisa mencari alternatif makanan yang mudah dikonsumsi. Contohnya, satu sendok madu atau satu sendok sirup.  Jika Anda sedang berada di luar rumah, makanan yang tersedia dalam minimarket juga bisa menjadi solusi.  Contohnya: setengah cangkir es krim setengah cangkir yogurt dua belas permen jeli lima butir permen keras 28 gram keripik kentang Untuk menjaga gula darah agar tetap stabil, penting untuk Anda menghadiri beberapa hal yang bisa memicu turunnya gula darah. Contohnya, konsumsi alkohol, terlalu banyak menggunakan obat diabetes, serta melewatkan waktu makan. Mulailah menerapkan disiplin dalam gaya hidup sehari-hari Anda. Tentu Anda tidak ingin-terus menerus bergantung pada cara menaikkan gula darah yang telah dibahas sebelumnya, bukan? Dengan melakukan perubahan positif dalam pola makan dan aktivitas sehari-hari, Anda dapat mencapai kesehatan yang lebih baik. Belanja Sehat dan Hemat di Sido Muncul Store! Dapatkan poin reward pada setiap pembelian, kumpulkan point dan tukarkan dengan potongan harga! Semakin banyak poin, semakin hemat belanja! Yuk, kunjungi Sido Muncul Store sekarang!
Baca SelengkapnyaBaca Selengkapnya
Mengenal Ciri-Ciri Vertigo karena Asam Lambung dan Cara Mengatasinya
Kesehatan10 NOV 2024

Mengenal Ciri-Ciri Vertigo karena Asam Lambung dan Cara Mengatasinya

Kondisi asam lambung sering kali menimbulkan keluhan sakit kepala, sehingga tak jarang orang awam mengira kondisi ini dapat memicu vertigo. Apakah benar demikian? Mari kenali lebih jauh tentang vertigo dan ciri-ciri vertigo karena asam lambung jika memang keduanya berhubungan. Benarkah Ada Hubungan antara Asam Lambung dan Vertigo? Jika membedah dari asal munculnya kondisi vertigo, yakni kelainan pada bagian telinga dalam, maka asam lambung sama sekali tidak berhubungan dengan vertigo. Namun, hal ini berbeda ketika Anda terkena GERD, yakni kondisi di mana asam lambung merambat ke kerongkongan.  Penelitian baru-baru ini menemukan bahwa GERD dapat memicu vertigo perifer, yakni kondisi pusing dengan kepala yang terasa berputar. Naiknya asam lambung ke kerongkongan dapat memengaruhi saluran yang terhubung ke telinga bagian dalam dan mengiritasinya, sehingga menyebabkan vertigo perifer muncul. Penelitian berhasil membuktikan bahwa 74% pasien dengan kondisi vertigo perifer memang memiliki GERD.[1] Lantas, apakah asam lambung bisa menjadi penyebab vertigo? Jawabannya bisa jadi ya, terutama ketika asam lambung mengalami refluks ke kerongkongan. Apa ciri-ciri asam lambung naik ke kerongkongan? Anda akan merasakan nyeri di dada, tenggorokan sakit, sulit menelan, suara yang serak, dan juga batuk. Dengan fakta bahwa GERD lebih sering menyerang kaum wanita, bisa diperkirakan bahwa vertigo perifer pun lebih umum di kalangan perempuan.[2] Ciri-Ciri Vertigo karena Asam Lambung Untuk mengetahui dengan pasti bahwa kondisi yang Anda rasakan adalah vertigo perifer, berikut adalah ciri-ciri vertigo perifer awal: 1. Dunia Terasa Berputar Ketika Anda mengalami vertigo perifer Anda akan merasa pusing atau seolah-olah dunia di sekeliling Anda sedang berputar. Rasa pusing ini bisa sangat mengganggu dan membuat Anda sulit menjaga keseimbangan. 2. Pendengaran Terganggu Mengingat kondisi ini terjadi akibat terjadinya inflamasi di area telinga, Anda mungkin akan mengalami masalah pada indera pendengaran Anda. Umumnya Anda akan kehilangan pendengaran pada satu sisi telinga atau kedua sisi telinga yang berdengung. 3. Pandangan Tidak Fokus Saat berusaha fokus pada objek tertentu, penglihatan Anda mungkin menjadi kabur, dan sulit untuk menentukan jarak atau detail objek tersebut. 4. Tubuh Kehilangan Keseimbangan Saat serangan vertigo datang, pandangan Anda yang tidak fokus dan sensasi dunia yang berputar akan membuat Anda kesulitan untuk tetap seimbang. Tanpa kewaspadaan, Anda bisa dengan mudah kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Cara Mengatasi Vertigo karena Asam Lambung Agar rasa pusing tidak terus menerus mengganggu kenyamanan Anda, berikut sejumlah cara mengobati vertigo karena asam lambung: 1. Istirahat  Luangkanlah waktu untuk beristirahat dengan posisi tubuh bagian atas yang lebih tinggi atau bersantai sambil duduk dengan tegak. Postur ini dapat menghentikan pergerakan asam lambung untuk naik ke kerongan dan mengiritasi saluran dalam telinga. 2. Hindari Cahaya Terang Paparan cahaya yang terang bisa memperburuk kondisi Anda, terlebih di tengah pandangan yang berpusar dan tidak bisa fokus.   Maka dari itu, sangat disarankan untuk beristirahat di ruangan yang gelap, jauh dari paparan layar televisi atau ponsel yang memancarkan cahaya tajam dan kontras. Ini bisa membantu meredakan efek pusing yang berputar dan mengganggu. 3. Minum Air Konsumsi air mineral dapat menekan asam lambung serta mengencerkan keasaman asam lambung. Selain air mineral, Anda juga bisa mengonsumsi minuman bersifat basa guna mengurangi kondisi asam di perut, seperti air kelapa, susu rendah lemak, serta susu dari sumber tanaman. 4. Mengonsumsi Obat-obatan yang Mengatasi GERD Konsumsi obat-obatan yang dapat menanggulangi asam lambung, seperti antasida, ranitidin, dan juga antagonis reseptor H2, bisa membantu Anda menenangkan asam lambung. Sebagian obat ini dijual bebas. Namun untuk pemakaian yang lebih aman dan ideal, konsultasi dengan dokter sebelum penggunaan obat sangat disarankan. Pantangan Vertigo dan Asam Lambung Agar kondisi vertigo akibat asam lambung yang menyiksa tidak lagi Anda alami, berikut beberapa pantangan yang harus Anda patuhi: 1. Menyantap Hidangan Tinggi Garam dan Berlemak Makanan dengan garam dapat memengaruhi keseimbangan cairan di telinga sehingga memicu peningkatan tekanan yang bisa memperburuk kondisi vertigo. Sementara itu, makanan berlemak, seperti gorengan dan daging berlemak, dapat mendorong naiknya asam lambung. 2. Bergadang Kurang tidur dan kualitas tidur yang rendah dapat meningkatkan risiko Anda mengalami masalah asam lambung. Usahakan untuk beristirahat setidaknya 7 hingga 9 jam sehari demi menjaga kesehatan tubuh. 3. Rokok dan Alkohol Merokok akan memicu naiknya asam lambung. Oleh karenanya, perokok aktif memiliki kemungkinan 23% jauh lebih besar mengalami GERD daripada orang yang tidak merokok.[3] Demikian pula, konsumsi alkohol dapat memperparah GERD, bahkan merusak lapisan lambung Anda. Vertigo dan asam lambung adalah dua kondisi yang sangat tidak menyenangkan terlebih jika Anda rasakan secara bersamaan. Supaya kondisi ini tidak mengganggu, kenalilah ciri-ciri vertigo karena asam lambung dan segeralah lakukan langkah penanganan. Jika perlu dikonsultasikan kondisi Anda ke dokter untuk memperoleh penanganan yang cepat. Belanja Sehat dan Hemat di Sido Muncul Store! Dapatkan poin reward pada setiap pembelian, kumpulkan point dan tukarkan dengan potongan harga! Semakin banyak poin, semakin hemat belanja! Yuk, kunjungi Sido Muncul Store sekarang!
Baca SelengkapnyaBaca Selengkapnya
Apakah Asam Lambung Bisa Sembuh? Ini Fakta dan Pengobatan Efektifnya
Kesehatan10 NOV 2024

Apakah Asam Lambung Bisa Sembuh? Ini Fakta dan Pengobatan Efektifnya

Apakah asam lambung bisa sembuh? Pertanyaan ini mungkin sering menghampiri Anda yang sudah lelah menghadapi gejalanya, mulai dari rasa mual hingga nyeri dada yang mengganggu.  Yuk, gali lebih dalam tentang asam lambung, termasuk fakta-fakta menarik seputar kondisi ini, serta kemungkinan kesembuhannya! Mengenal Asam Lambung Asam lambung sebetulnya adalah cairan encer tak berwarna di lambung yang memiliki sifat asam. Fungsinya adalah untuk mencerna makanan di lambung serta membunuh bakteri yang masuk bersamaan dengan makanan agar tidak menginfeksi tubuh. Oleh karenanya, kehadiran asam lambung ini memang diperlukan tubuh. Namun, pada kondisi yang tidak normal, produksi cairan asam lambung ini bisa meningkat sehingga mengiritasi dinding lambung Anda. Kondisi inilah yang dikenal banyak orang dengan gangguan asam lambung.  Jika kondisi asam lambung ini semakin parah dan naik ke area kerongkongan, maka munculah kondisi yang dikenal sebagai GERD. Ciri-ciri asam lambung yang parah: Rasa panas dan nyeri di area dada Mulut yang terasa pahit Perut terasa kembung Muncul rasa ingin muntah Sendawa yang berulang-ulang Fakta Seputar Asam Lambung Belum banyak diketahui, ini sejumlah fakta menarik seputar asam lambung yang perlu diketahui: 1. Kondisi Ini Lebih Dipengaruhi oleh Gaya Hidup yang Tidak Sehat Faktor gaya hidup yang kurang sehat memiliki pengaruh besar terhadap munculnya asam lambung. Kebiasaan seperti jarang berolahraga, berat badan yang bertambah dan tidak terkontrol, merokok, serta konsumsi makanan yang kurang ramah bagi lambung merupakan beberapa pemicunya.  Fakta ini semakin jelas terlihat dengan meningkatnya kasus GERD selama pandemi Covid-19, di mana banyak orang terpaksa tinggal di rumah, kurang melakukan aktivitas fisik, dan cenderung makan sembarangan tanpa pola yang teratur.[1] 2. Asam Lambung Lebih Banyak Dialami Anak Muda di Usia Produktif Memang benar asam lambung lebih berisiko pada orang dengan usia yang lebih tua karena melemahnya cincin katup yang memisahkan lambung dan jalur kerongkongan. Meski demikian, kondisi asam lambung yang parah atau GERD ternyata paling banyak dirasakan oleh anak muda di usia 20-29 tahun.[2] Tingginya angka ini di kalangan anak muda disebabkan oleh beberapa hal, termasuk pola makan yang tak teratur dan kebiasaan makan di jam larut malam, ditambah konsumsi kopi yang terlalu sering.[3] 3. Asam Lambung Lebih Banyak Dialami oleh Wanita Seiring bertambahnya usia, wanita lebih rentan terhadap kondisi ini daripada kaum pria.  Hal ini disebabkan oleh dua faktor utama: perubahan hormon yang terjadi seiring bertambahnya usia dan hiatal hernia, di mana sebagian lambung menonjol ke rongga dada, kondisi ini lebih sering dialami oleh wanita obesitas berusia di atas 50 tahun.[4] Apakah Asam Lambung Bisa Sembuh secara Total? Kondisi asam lambung bisa sembuh sepenuhnya dengan melakukan pengobatan dan mengadopsi gaya hidup yang lebih sehat.  Namun, penting untuk diingat bahwa meskipun Anda telah mencapai kesembuhan, masih ada kemungkinan muncul kekambuhan apabila pola hidup dan asupan makanan tidak dijaga dengan baik. Lalu, bagaimana cara agar asam lambung sembuh total? Selama proses penyembuhan, Anda akan berhadapan dengan beberapa langkah penting yang perlu Anda lakukan, seperti: 1. Konsumsi Obat Pada proses penyembuhan, dokter akan meresepkan sejumlah obat untuk mengendalikan asam lambung, seperti esomeprazole, lansoprazole, dan juga omeprazole. Obat-obatan ini tersedia dengan resep dokter dan harus Anda konsumsi sesuai petunjuk. Secara umum, pengobatan ini biasanya berlangsung antara 6 hingga 12 minggu, tergantung pada seberapa parah kondisi yang Anda miliki.[5] 2. Penyesuaian Gaya Hidup Perubahan dalam gaya hidup Anda tidak hanya menghindari makanan yang dapat memicu meningkatnya asam lambung, tetapi juga berhenti merokok dan memulai rutinitas olahraga secara teratur. 3. Konsumsi Suplemen Ingin sembuh dari asam lambung? Di samping pengobatan dari dokter dan modifikasi gaya hidup yang lebih sehat, Anda juga perlu mengonsumsi suplemen yang menjaga kesehatan lambung, seperti Sido Muncul Natural SariKunyit.  Suplemen herbal ini terbuat dari kunyit pilihan yang bermanfaat menjaga kesehatan lambung. Tidak hanya efektif atasi rasa mual, perih, dan juga kembung ketika asam lambung kambuh, suplemen ini juga bisa melindungi dinding lambung dari iritasi karena kandungan kurkumin dari kunyit. Kesehatan lambung Anda akan lebih terjamin! Berapa Lama Penyakit Asam Lambung Bisa Sembuh? Seberapa lama kondisi Anda akan membaik serta sembuh bergantung pada tingkat keparahan yang Anda alami serta seberapa konsisten Anda rajin menjaga gaya hidup yang sehat. Semakin Anda disiplin,  semakin cepat pula proses penyembuhan. Apakah asam lambung bisa sembuh? Bisa! Mulailah modifikasi gaya hidup Anda menjadi lebih sehat dan rutinlah mengonsumsi Sido Muncul Herbal Sari Kunyit setiap hari demi kesehatan lambung yang optimal. Belanja Sehat dan Hemat di Sido Muncul Store! Dapatkan poin reward pada setiap pembelian, kumpulkan point dan tukarkan dengan potongan harga! Semakin banyak poin, semakin hemat belanja! Yuk, kunjungi Sido Muncul Store sekarang!
Baca SelengkapnyaBaca Selengkapnya
Berapa Kadar Gula Darah Normal Usia 40 Tahun? Ini Jawabannya
Kesehatan09 NOV 2024

Berapa Kadar Gula Darah Normal Usia 40 Tahun? Ini Jawabannya

Memasuki usia paruh baya, menjaga level gula di tubuh tidak bisa lagi dikesampingkan. Pasalnya, kadarnya yang menyimpang dari ambang batas ideal pada usia tua lebih berpotensi memicu gangguan kesehatan yang lebih serius. Lantas, berapakah kadar gula darah normal usia 40 tahun? Yuk, cari tahu! Berapa Gula Darah Normal Orang Dewasa Usia 40-an? Angka yang menjadi standar kadar gula normal atau tidak, ternyata cukup bervariasi, tergantung pada waktu pengukuran yang Anda lakukan. Ada dua kadar yang berlaku, yakni kadar sebelum makan serta kadar setelah makan.  Kadar sebelum makan merupakan acuan yang diukur setelah Anda tidak menyentuh makanan selama 8-12 jam. Sebaliknya, kadar setelah makan merujuk pada nilai yang tercatat usai Anda menyantap makanan juga minuman. Lantas, berapa kadar gula darah normal berdasarkan usia 40 tahun? Pada individu yang sehat atau tanpa ada kondisi diabetes, berikut adalah kadar gula darah normal usia 40 tahun pada wanita dan pria: Sebelum Makan: 70 – 99 mg/dL Setelah Makan: 70 – 140 mg/dL Apabila laporan pemeriksaan menunjukkan level glukosa di bawah 70 mg/dL, sebagaimana acuan di atas, maka Anda mengalami hipoglikemia atau kadar gula darah yang rendah.  Sebaliknya, bila angka hasil pengukuran melebihi 100 mg/dL atau 140 mg/dL, ini menandakan kondisi hiperglikemia atau glukosa darah tinggi. Pada kondisi ini, Anda mungkin juga masuk dalam kategori prediabetes. Pada kondisi ini Anda harus mulai waspada  agar kondisi tidak berkembang menjadi diabetes. Anda dapat dikatakan memiliki diabetes tipe 2 jika dari beberapa hasil pemeriksaan menunjukkan level glukosa sebelum makan menyentuh angka 125 mg/dL. Sementara itu, jika seseorang didiagnosis diabetes tipe 1, hasil tes biasanya menunjukkan angka lebih dari 250 mg/dL.[1] Faktor-Faktor yang Memengaruhi Stabilitas Gula Darah Kadar gula darah normal usia 40 tahun ke atas dapat mengalami penurunan atau kenaikan karena sejumlah hal, seperti: 1. Konsumsi Karbohidrat Karbohidrat komplek merupakan jenis makanan yang paling berkontribusi terhadap kondisi gula. Oleh karenanya, sedikit banyaknya konsumsi karbohidrat akan memengaruhi kondisi kadar gula.[2] Beberapa makanan yang termasuk karbohidrat komplek adalah beras, pasta, roti, kentang, dan juga ubi jalar. 2. Stres Tekanan yang cukup besar akan memicu produksi hormon yang kemudian akan menaikkan gula di tubuh. Jika terjadi sekali atau dua kali, kondisi ini tidak berdampak signifikan. Kabar buruknya, stres yang berkepanjangan dapat menyebabkan resistensi insulin dan meningkatkan potensi diabetes.[3] 3. Konsumsi Alkohol Ketika Anda mengonsumsi alkohol, organ hati akan menghentikan aktivitasnya dalam menghasilkan glukosa sehingga level gula akan menurun drastis. Saat kondisi ini muncul, Anda mungkin akan merasakan pusing, penglihatan kabur, atau bahkan bisa saja pingsan. 4. Kurang Tidur Kebiasaan bergadang dan kurang waktu istirahat dapat mengganggu kinerja insulin dalam tubuh. Padahal, insulin memiliki peran penting dalam mengontrol level glukosa yang melonjak.[4] Hasil studi menunjukkan bahwa orang yang memiliki masalah tidur mempunyai gula darah 14% lebih tinggi.[5] Tips Mempertahankan Kadar Gula agar Tetap Normal Mencegah lebih baik daripada mengobati! Untuk menjaga kesehatan tubuh, coba beberapa tips sederhana ini agar gula darah tetap stabil: 1. Buat Tubuh Lebih Aktif Tubuh yang dibiarkan malas-malasan dan tidak bergerak dalam jangka panjang akan membuat kadar glukosa di tubuh meningkat. Bahkan, meski Anda telah mengurangi konsumsi makanan atau minuman manis, kondisi ini tidak bisa dihindari.  Oleh karenanya, mulailah aktif dengan rutin melakukan aerobik atau latihan ketahanan, seperti push up, squat, dan deadlift.[6] Hentikan kebiasaan rebahan dan kebanyakan duduk-duduk santai. Mulailah olahraga setidaknya 20 menit sehari. 2. Selektif Memilih Santapan Kurangi intensitas konsumsi hidangan yang manis, terlalu asin, karbohidrat olahan, serta makanan instan. Sebaliknya, makanlah hidangan menyehatkan yang terdiri dari sayur, buah, dan sumber lemak sehat, seperti sarden, alpukat, dan juga kacang.,  Jangan lupa juga perbanyak konsumsi protein. Nutrisi makanan ini dapat memperlambat proses masuknya glukosa ke darah setelah makan, sehingga kondisi gula Anda akan lebih terkontrol.[7] Sejumlah sumber protein yang bisa Anda pilih adalah telur, ayam, daging sapi, lele, ikan kembung, tahu, dan juga tempe. 3. Penuhi Waktu Tidur Kurangi kebiasaan begadang dan tidurlah setidaknya 7-9 jam setiap malam. Jika Anda memiliki masalah sulit tidur, menggunakan wewangian seperti lavender, mendengakarkan musik yang menenangkan, serta meredupkan lampu kamar dapat menjadi solusi yang membuat Anda lebih mudah tertidur. Kadar gula darah normal di usia 40 tahunan menjadi salah satu kunci untuk terus hidup sehat. Dengan memperhatikan pilihan makanan, olahraga teratur, serta pengelolaan stres, menjaga level glukosa dalam darah bukanlah hal yang sulit. Jadi, mulailah hidup dengan sehat dari sekarang dan jaga terus gula darah Anda! Belanja Sehat dan Hemat di Sido Muncul Store! Dapatkan poin reward pada setiap pembelian, kumpulkan point dan tukarkan dengan potongan harga! Semakin banyak poin, semakin hemat belanja! Yuk, kunjungi Sido Muncul Store sekarang!
Baca SelengkapnyaBaca Selengkapnya
Mengenal Lebih Dekat Penyakit Diabetes: Gejala & Penanganan
Kesehatan09 NOV 2024

Mengenal Lebih Dekat Penyakit Diabetes: Gejala & Penanganan

Menjadi negara ke-5 dengan persentase diabetes tertinggi di dunia, masyarakat Indonesia sudah seharusnya mulai was-was dengan penyakit ini. Bagaimana tidak, dari 19 juta penduduk yang memiliki diabetes, angka ini diprediksi akan terus mengalami kenaikan, bahkan hingga 68%.[1] Agar bisa mencegah atau setidaknya mengurangi risiko terkena diabetes, penting bagi Anda untuk mengenal lebih baik tentang gangguan kesehatan ini. Berikut adalah informasi lengkap seputar jenis, penyebab, gejala, hingga cara pengobatan dan pencegahannya yang perlu Anda ketahui. Apa Itu Diabetes? Diabetes melitus atau lebih ramah di telinga Anda sebagai diabetes merupakan kondisi kronis jangka panjang yang hadir ketika ada peningkatan glukosa di darah. Penyebabnya adalah kurangnya produksi hormon insulin dari hati atau berkurangnya kemampuan sel tubuh dalam merespon insulin.  Tanpa perawatan yang sesuai, kondisi ini dapat membuka peluang bagi masalah kesehatan lain, seperti gagal ginjal, gangguan saraf, gangguan pada retina, bahkan  amputasi. Klasifikasi Diabetes Sebagai penyakit yang cukup komplek, gangguan kesehatan ini diklasifikasikan ke dalam beberapa tipe, antara lain: 1. Diabetes Tipe 1 Dalam kondisi ini, tubuh hampir tak memiliki pasokan insulin atau bahkan sama sekali. Dalangnya adalah imun tubuh Anda sendiri, yang menggempur sel-sel penghasil insulin di pankreas. Ironisnya, anak-anak menjadi kelompok usia yang paling banyak terkena gangguan ini. 2. Diabetes Tipe 2 Dalam gangguan ini, pemicu utama terletak pada ketidakmampuan tubuh Anda untuk bereaksi terhadap insulin ketika kadar gula darah melonjak tinggi atau resistensi insulin. Fakta menariknya, kondisi ini menyumbang hingga 90% dari total kasus diabetes yang ada.[1] 3. Diabetes Gestasional Kondisi ini mengacu pada naiknya gula darah selama masa kehamilan. Hormon dari plasenta yang menghambat tubuh menghasilkan atau menggunakan insulin adalah pemicu utamanya.[2]  Data menunjukkan bahwa di Indonesia, 1,9% dan 3,6% kehamilan ternyata mengalami kondisi ini, yang menuntut perhatian ekstra terhadap kesehatan ibu dan perkembangan janin.[3] Penyebab Diabetes Faktor yang memicu diabetes pada Anda atau keluarga sangatlah beragam, tergantung pada jenis yang diderita. Diabetes Tipe 1 Autoimun Kombinasi Faktor Keturunan dan Infeksi Mutasi Genetik Diabetes Tipe 2 Kerusakan di Pankreas Kurangnya Insulin Obesitas Tubuh Kebal terhadap Insulin Tubuh yang Kurang Aktif Diabetes Gestasional Perubahan Hormon Gejala Diabetes Tanda-tanda diabetes terlihat paling jelas pada kondisi diabetes tipe 1. Sementara itu, pada kondisi lain tubuh jarang sekali memberikan sinyal.  Lantas, apa gejala awal penderita diabetes yang umum terlihat? Rasa haus yang terus-menerus muncul. Desakan untuk kencing lebih tinggi bahkan mengompol. Fisik yang mudah letih. Selalu merasakan rasa lapar yang tak kunjung hilang. Pandangan yang kurang jelas. Penurunan berat badan yang berlangsung secara tiba-tiba dan signifikan. Pengobatan Diabetes Setiap tipe diabetes memerlukan pendekatan pengobatan yang berbeda, dan berikut adalah cara perawatan pada setiap jenisnya: Diabetes Tipe 1 Individu dengan kondisi ini akan memerlukan penggantian insulin seumur hidup, yang diikuti dengan pemantauan kadar gula darah serta penerapan gaya hidup yang sehat. Penderita diwajibkan untuk melakukan suntikan insulin beberapa kali dalam sehari.[4] Diabetes Tipe 2 Pada kondisi ini, konsumsi obat menjadi salah satu solusinya. Contohnya konsumsi obat untuk meningkatkan produksi insulin, meningkatkan sensitivitas sel pada insulin, serta menghambat kerja enzim dalam memecah karbohidrat menjadi gula.[5] Selain itu, akan dilakukan juga modifikasi pada gaya hidup, seperti menekan konsumsi lemak jenuh, karbohidrat, makanan dengan fruktosa tinggi. Penderita juga akan didorong untuk olahraga, seperti aerobik, selama 90 hingga 150 menit per minggu.[6] Diabetes Gestasional Penanganan berfokus pada diet sehat yang baik untuk ibu dan janin, seperti konsumsi makanan rendah lemak dan kalori. Selain itu, penderita juga akan diajak untuk lebih aktif beraktivitas, seperti jalan kaki, berenang, atau bersepeda, setidaknya 30 menit sehari untuk mengontrol gula darah.[7] Pencegahan Diabetes Diabetes semakin menjadi ancaman serius di negeri ini. Jangan sampai Anda menjadi korban berikutnya! Yuk, lindungi diri Anda dengan langkah-langkah sederhana berikut: 1. Olahraga Tubuh yang aktif mempunyai peran yang besar dalam menjaga tubuh dari obesitas dan meningkatkan sensitivitas insulin. Tidak perlu melakukan aktivitas yang terlalu membebani diri, latihan seperti jalan kaki, bersepeda, dan berenang, setidaknya 20 menit sehari, sudah cukup untuk menjaga kesehatan Anda. 2. Makan Hidangan yang Sehat dan Seimbang Pastikan untuk menyertakan berbagai jenis hidangan dalam diet Anda. Sajikan makanan kaya serat dan lemak sehat di meja makan Anda. Beberapa bahan yang dapat Anda gunakan adalah sarden, ikan kembung, salmon, brokoli, kembang kol, buncis, tomat, dan pasta gandum. 3. Tinggalkan Kebiasaan Merokok Merokok dapat menyebabkan peningkatan risiko diabetes tipe 2 sebesar 30% hingga 40%.[8] Jika Anda peduli dengan kesehatan tubuh Anda, segera tinggalkan kebiasaan ini! Jangan biarkan diri Anda masuk ke dalam daftar penderita diabetes. Segera modifikasi gaya hidup Anda menjadi lebih sehat dan jauhkan diri dari ancaman penyakit ini di masa depan. Belanja Sehat dan Hemat di Sido Muncul Store! Dapatkan poin reward pada setiap pembelian, kumpulkan point dan tukarkan dengan potongan harga! Semakin banyak poin, semakin hemat belanja! Yuk, kunjungi Sido Muncul Store sekarang!
Baca SelengkapnyaBaca Selengkapnya
Apa Itu Keringat Dingin? Kenali Gejala, Penyebab, dan Solusinya
Kesehatan08 NOV 2024

Apa Itu Keringat Dingin? Kenali Gejala, Penyebab, dan Solusinya

Keringat yang membasahi dahi tatkala selesai berolahraga atau beraktivitas tentu merupakan hal wajar. Namun tidak demikian dengan keringat dingin. Kemunculannya bisa menjadi suatu pertanda bahwa tubuh Anda sedang tidak baik-baik saja.  Cari tahu lebih jauh tentang penyebab, gejala, cara mengatasi, hingga pencegahan keringat dingin agar Anda lebih siap menghadapinya di sini! Apa yang Dimaksud dengan Keringat Dingin? Keringat dingin adalah keadaan di mana keluarnya peluh secara mendadak karena faktor kesehatan yang melatarbelakanginya. Selain itu, kemunculannya juga akan Anda rasakan di sekujur tubuh. Hal ini berbeda dengan keringat akibat kelelahan fisik, mengangkat beban berat, atau saat lelah beraktivitas, karena keringat biasa hanya muncul di area tertu seperti kening atau leher.  Penyebab Keringat Dingin Jika memang kemunculannya bukan karena kelelahan fisik, lantas apa saja hal yang membuat kondisi ini bisa Anda alami? 1. Menopause 85% orang yang memasuki menopause (45 - 55 tahun) merasakan keringat dingin, terutama wanita. Keadaan ini dipengaruhi oleh fluktuasi hormon yang mulai naik turun di usia yang tua.[1] 2. Diabetes Bagi penderita diabetes, munculnya peluh secara mendadak bisa menjadi sinyal bahwa gula darah sedang rendah. Pada kondisi ini, Anda harus segera mencari makanan atau minuman manis, seperti madu, minuman bersoda, atau permen agar tubuh tidak pingsan. 3. Ada Infeksi di Tubuh Ketika tubuh diserang oleh bakteri atau virus, seperti saat demam dan masuk angin, sistem imun bereaksi dengan menaikkan suhu tubuh untuk melawan penyusup tersebut. Peningkatan suhu ini membuat tubuh berkeringat, sehingga tak mengherankan jika saat demam, Anda akan mengeluarkan keringat dingin. 4. Hipertiroid Banyaknya hormon tiroid dalam tubuh akan membuat Anda tidak tahan terhadap suhu hangat sehingga Anda akan mudah menghasilkan keringat dingin. Anda dapat mengenali kondisi ini melalui gejala lain, seperti penipisan rambut, mata yang tampak melotot, dan leher yang tampak bengkak.[2] 5. Serangan Panik Di samping tubuh yang menggigil, napas yang sesak, serta jantung yang berdetak cepat, serangan panik akan membuat tubuh Anda mengeluarkan peluh dalam jumlah yang banyak. Ini merupakan respon alami tubuh yang tidak bisa Anda hindari. Keringat dingin tanda apa? Selain, lima kondisi di atas, keringat dingin juga bisa muncul akibat kanker, serangan jantung, konsumsi obat, alergi, serta gejala penarikan (withdrawal syndrome) pada pecandu alkohol atau obat-obatan.  Untuk memahami lebih jelas penyebab dari kondisi Anda, disarankan untuk menjalani tes medis. Gejala Keringat Dingin Ciri-ciri keringat dingin yang dialami setiap orang bisa bervariasi, tergantung pada penyebab dari kondisi yang dirasakan. Namun secara umum, gejalanya berupa: Permukaan kulit terasa basah dan dingin Irama jantung yang berdetak kencang Kepala mendadak pusing Muncul rasa mual Wajah tampak lebih pucat Tiba-tiba terasa sesak napas Cara Mengatasi Keringat Dingin Mengingat bahwa kondisi ini bukan penyakit, melainkan tanda adanya sesuatu dalam tubuh, penanganan terbaik adalah dengan mengatasi sumber permasalahannya. Konsultasi medis dapat membantu Anda memahami penyebabnya secara pasti.  Namun, untuk kasus ringan misalnya akibat serangan panik, berikut sejumlah hal yang bisa Anda lakukan: 1.  Bernapas dengan Perlahan dan Ubah Fokus ke Hal Positif Untuk kondisi yang muncul akibat rasa panik, cobalah untuk mengatur ritme napas menjadi lebih lambat dan teratur agar rasa panik bisa berkurang. Selain itu, arahkan pikiran Anda pada hal-hal positif yang membuat tenang dapat mengurangi kepanikan, sehingga reaksi tubuh berupa keringat akibat stres bisa lebih terkendali. 2. Istirahat yang Cukup dan Konsumsi Obat Saat demam dan masuk angin, beristirahat lebih lama bisa sangat membantu. Dengan begitu, tubuh dapat mengarahkan energinya untuk melawan virus atau bakteri penyebab demam, sehingga pemulihan pun bisa lebih cepat. Selain beristirahat, Anda juga bisa mengonsumsi Sido Muncul Jamu Tolak Angin. Daun cengkeh, jahe, buah adas, serta kayu ules dalam formulasi jamu ini akan membantu Anda kembali mengatasi gejala demam dan masuk angin, seperti mual, kembung, dan juga keringat dingin. 3. Menggunakan Antiperspiran Pada kondisi yang membutuhkan penanganan jangka panjang seperti diabetes atau kondisi menopause yang tidak dapat dihindari, keluarnya keringat dingin bisa atasi dengan memakai antiperspiran. Antiperspiran bekerja dengan menutup pori-pori tempat keluarnya keringat, sehingga produksi keringat dapat berkurang. Cara Mencegah Munculnya Keringat Dingin Asalkan tidak ada kondisi serius yang menjadi penyebabnya, Anda dapat melakukan beberapa langkah untuk mencegah keluarnya keringat dingin, seperti: Menjaga kebersihan lingkungan dan diri agar kuman penyakit tidak masuk ke tubuh.  Menghindari makanan pemicu alergi. Jaga kesehatan tubuh dengan mengikuti pola hidup yang sehat dan berolahraga secara berkala. Jika kondisi keringat dingin terus berlanjut atau semakin parah, jangan ragu untuk konsultasikan keadaan Anda pada tenaga medis. Ingatlah bahwa kesehatan adalah investasi terbaik yang bisa Anda miliki! Belanja Sehat dan Hemat di Sido Muncul Store! Dapatkan poin reward pada setiap pembelian, kumpulkan point dan tukarkan dengan potongan harga! Semakin banyak poin, semakin hemat belanja! Yuk, kunjungi Sido Muncul Store sekarang!
Baca SelengkapnyaBaca Selengkapnya
Badan Lemas dan Mengantuk? Ketahui Penyebab dan Solusinya!
Kesehatan08 NOV 2024

Badan Lemas dan Mengantuk? Ketahui Penyebab dan Solusinya!

Badan lemas dan mengantuk dapat mengurangi semangat untuk berkegiatan, membuat aktivitas jadi kurang produktif. Kondisi ini bisa dipengaruhi oleh pola hidup yang kurang sehat, stres, hingga indikasi adanya suatu penyakit di tubuh. Beberapa cara bisa Anda lakukan untuk mengatasi masalah ini. Namun sebelumnya, yuk, pahami dulu apa saja faktor yang jadi penyebabnya! Penyebab Badan Lemas dan Mengantuk Tidak memiliki semangat untuk menjalani hari, tubuh lemas, dan mata yang terasa berat bisa Anda rasakan karena beberapa sebab, yaitu: 1. Kurang Tidur Ketika Anda begadang, energi yang semestinya disimpan untuk kegiatan di siang hari justru akan terpakai oleh tubuh.[1] Inilah sebabnya tubuh Anda sering terasa lelah setelah kurang tidur. 2. Stres Stres yang Anda alami akan membuat pikiran Anda sulit tenang, yang berimbas pada tidur yang kurang berkualitas. Dengan kata lain, energi yang seharusnya terisi saat tidur menjadi tidak optimal, sehingga Anda merasa lelah dan mengantuk sepanjang hari. 3. Konsumsi Alkohol Walau mempunyai efek sedatif yang bantu Anda terlelap, penting untuk Anda ketahui bahwa alkohol juga dapat meningkatkan kadar epinefrin, hormon stres yang bisa membuat Anda terbangun mendadak di malam hari. Akibatnya, kualitas tidur Anda bisa terganggu. 4. Gaya Hidup yang Tidak Aktif Rebahan memang asyik. Tetapi jika Anda terlalu malas, tidak berolahraga, dan terus terlena dengan kenyamanan dari mager dan rebahan, fungsi tubuh Anda akan terganggu.  Ini sebabnya, sedikit melakukan aktivitas justru bisa membuat Anda lelah dan lemas. 5. Kurang Nutrisi Badan lemas dan mengantuk kurang vitamin apa? Tubuh Anda mungkin kekurangan vitamin D. Penelitian membuktikan bahwa orang-orang yang mengeluhkan tubuhnya mudah lelah dan lemas, sekitar 77%  di antaranya ternyata kekurangan vitamin D.[2] Kondisi ini bisa terjadi pada Anda akibat kurangnya paparan sinar matahari atau karena mengonsumsi obat-obatan seperti Orlistat dan steroid yang dapat menghambat penyerapan vitamin D. 6. Konsumsi Obat Badan sering lemas dan mudah capek juga bisa karena efek samping dari obat-obatan yang Anda konsumsi. Golongan obat antidepresan, hipertensi, serta alergi bisa menimbulkan rasa kantuk, serta menurunkan membuat tubuh lebih lemas. 7. Burnout Burnout mengacu pada kondisi kelelahan secara fisik yang juga memengaruhi psikis Anda. Kondisi ini akan membuat Anda merasa lelah terus-menerus dan kurang termotivasi dalam menjalani keseharian. Kondisi ini lebih umum dialami oleh wanita, dengan persentase 75% wanita dan 25% pria.[3] 8. Anemia Kurangnya sel darah merah ketika Anda memiliki anemia akan membuat pengangkutan oksigen ke seluruh tubuh menjadi kurang optimal. Padahal, oksigen ini tubuh Anda perlukan untuk menghasilkan energi.  Oleh karena itu, bagi Anda yang menderita anemia, Anda mungkin akan sering merasa lemas dan tidak berenergi. 9. Penyakit Jantung Kondisi lemas dengan jantung berdebar bisa menjadi sinyal akan tanda adanya masalah pada jantung. Kelelahan serta rasa berdebar yang Anda alami mungkin disebabkan oleh reaksi jantung yang bekerja lebih keras dalam memompa darah. 10. Diabetes Badan lemas dan mengantuk setelah makan dapat menjadi tanda bahwa Anda memiliki diabetes. Pasalnya, tubuh  dengan diabetes sering kali mengalami resistensi insulin yang mengakibatkan tubuh tidak dapat membawa glukosa ke dalam sel-sel tubuh yang penting sebagai sumber energi.  11. Dehidrasi Tubuh manusia membutuhkan setidaknya 2,5 hingga 3 liter air setiap hari. Jika asupan ini kurang, Anda mungkin mengalami dehidrasi, yang bisa menimbulkan rasa haus, mulut kering, pusing, badan lemas, hingga sulit berkonsentrasi. 12. Gangguan Ginjal Kondisi ginjal yang tidak sehat akan berdampak pada penumpukan racun di tubuh. Dampak dari kondisi ini adalah tubuh yang mudah merasa lelah. Selain itu, prosedur perawatan bagi pasien dengan masalah ginjal, seperti cuci darah, sering kali menyebabkan efek samping berupa rasa lesu dan stres.[4] 13. Kelebihan Hormon Tiroid Hipertiroidisme atau kelebihan hormon tiroid dapat membuat Anda kesulitan tidur di dalam hari dan merasa cemas. Oleh karena itu, Anda mungkin akan merasakan tubuh yang lemas dan mengantuk sebagai salah satu gejalanya. Cara Mengatasi Badan Terasa Lemas dan Mengantuk Di luar kondisi kesehatan yang mempengaruhi, ada beberapa cara cepat yang dapat membantu Anda kembali bersemangat dan tidak lagi mengantuk. Apa saja? 1. Mengonsumsi Kopi Jika Anda belum sempat beristirahat untuk mengisi kembali energi, cara cepat yang bisa Anda lakukan adalah dengan minum kopi. Kandungan kafein di dalamnya dapat membantu mengusir rasa lelah.[5] 2. Mencium Wewangian Wangi segar seperti jeruk, lemon, pepermin, kopi, dan juga minyak kayu putih akan membuat Anda lebih terjaga. Manfaatkan aroma ini dengan menjadikannya sebagai pengharum ruangan atau menggunakan diffuser untuk mendapatkan efek yang optimal.[6] 3. Minum Sido Muncul Jamu Sehat Pria Instan Badan lemas dan mengantuk harus minum apa? Bagi pria yang membutuhkan energi, Anda bisa mengonsumsi Sido Muncul Jamu Sehat Pria Instan.  Kombinasi ginseng, madu, dan buah minyak kayu putihnya akan membuat tubuh Anda kembali segar dan lebih prima. Jamu ini akan membantu Anda menjalani hari dengan lebih penuh semangat dan energi. Badan lemas dan mengantuk? Jangan ragu mencoba Sido Muncul Jamu Sehat Pria Instan! Solusi ideal bagi pria yang ingin tetap sehat dan bertenaga! Belanja Sehat dan Hemat di Sido Muncul Store! Dapatkan poin reward pada setiap pembelian, kumpulkan point dan tukarkan dengan potongan harga! Semakin banyak poin, semakin hemat belanja! Yuk, kunjungi Sido Muncul Store sekarang!
Baca SelengkapnyaBaca Selengkapnya
Kenapa Badan Terasa Lemas padahal Sudah Makan? Ini Penyebabnya & Solusinya
Kesehatan07 NOV 2024

Kenapa Badan Terasa Lemas padahal Sudah Makan? Ini Penyebabnya & Solusinya

Makan dimaksudkan untuk mengembalikan tenaga dan memberi tubuh dorongan energi. Tapi ada berbagai kondisi yang membuat sebaliknya, badan jadi lemas dan tak bertenaga. Kenapa badan justru lemas padahal sudah makan? Fenomena ini mungkin disebabkan oleh beberapa hal yang mungkin belum Anda sadari. Mari telusuri lebih lanjut penyebab dan cara mengatasinya di sini! Penyebab Badan Terasa Lemas padahal Sudah Makan  Ada beberapa hal yang dapat menjadi pemicu tubuh yang lemas setelah makan, dari pemilihan makanan hingga gangguan kesehatn di tubuh. Berikut penjelasannya:  1. Mengonsumsi Makanan dengan Kandungan Triptofan Triptofan adalah asam amino yang ketika dimetabolisme oleh tubuh, zat ini akan mendorong tubuh untuk menghasilkan serotonin. Kehadiran serotonin inilah yang dapat membuat tubuh Anda menjadi mengantuk, terasa lelah, dan motivasi untuk beraktivitas jadi menurun.[1] Beberapa jenis makanan dengan kandungan triptofan adalah tahu, salmon, kepiting, ayam, telur, kentang, pisang, dan juga apel. 2. Mengonsumsi Makanan Tinggi Karbohidrat Bagi masyarakat Indonesia, makan tanpa nasi rasanya seperti belum lengkap. Ini sebabnya, nasi menjadi bagian utama dalam setiap hidangan nusantara.  Sebagai sumber utama karbohidrat, nasi memang mengenyangkan, tetapi konsumsi ini juga bisa membuat tubuh merasa lelah dan mengantuk, terutama sekitar 30 menit setelah mengonsumsinya.[2] 3. Memiliki Diabetes Penderita diabetes sering kali mengalami resistensi insulin. Hal ini terjadi ketika insulin dalam tubuh tidak dapat menjalankan tugasnya untuk membawa glukosa ke dalam sel-sel tubuh. Dengan peran glukosa yang penting sebagai sumber energi tubuh, gagalnya peran insulin inilah yang akan membuat tubuh Anda terasa lemas.[3] 4. Porsi Makan yang Berlebihan Mengapa saya merasa sangat lemas setelah makan? Porsi makan yang berlebihan bisa menjadi salah satu pemicunya.  Kadar sitokin yang berfluktuasi setelah Anda mengonsumsi makanan dengan kalori yang berlebihan ternyata punya kaitan erat dengan munculnya rasa lelah yang Anda rasakan.[4] 5. Mengonsumsi Makanan Berlemak Interaksi antara lemak dari makanan dengan lemak dalam tubuh akan membuat tubuh Anda terasa lemah dan lesu. Tak hanya itu, makanan tinggi lemak juga bisa menurunkan kualitas tidur Anda, mudah terbangun, dan muncul rasa lelah di hari berikutnya.[5] 6. Tubuh Tidak Cukup Aktif Kurangnya aktivitas fisik akan menyebabkan penurunan kondisi sistem muskuloskeletal dan kardiovaskuler tubuh serta menurunkan suasana hati. Oleh karenanya Anda mungkin mudah merasa lelah dan kurang bersemangat bahkan setelah mengisi perut. 7. Stres Salah satu penyebab utama dari kelelahan kronis adalah stres, yang dapat membuat Anda merasa energi tubuh benar-benar terkuras, tidak peduli seberapa banyak Anda tidur atau seberapa banyak Anda makan. 8. Konsumsi Alkohol Di beberapa kesempatan, seperti saat makan malam, Anda mungkin disajikan minuman beralkohol seperti wine atau champagne untuk melengkapi jamuan makan malam. Dengan karakter sedatif dari alkohol, bukan hal yang aneh jika Anda merasa lemas setelah makan. 9. Anemia Sudah makan tapi masih lemas dan pusing? Mungkin Anda sedang anemia atau kekurangan darah. Keadaan ini menyebabkan pengiriman oksigen ke seluruh tubuh tidak berjalan dengan baik, sehingga Anda akan merasakan tubuh yang lebih lemas, meskipun sudah makan. 10. Konsumsi Makanan Tinggi Gula Camilan manis dan minuman yang tinggi kandungan gula dapat memicu lonjakan gula darah. Namun, ketika kadar gula ini kembali turun, tubuh Anda bisa menjadi lemas dengan cepat. 11. Intoleransi Makanan Bagi orang yang intoleran terhadap makanan tertentu, seperti gluten, reaksi negatif yang timbul tidak hanya berupa sakit perut, tetapi juga bisa berupa rasa lelah.  Ketika tubuh menghadapi makanan yang dianggapnya sebagai ancaman, tubuh  akan berusaha keras untuk melawan, reaksi ini akan memakan banyak energi dan membuat Anda merasa lebih lemas dari biasanya. 12. Mengonsumsi Obat Mengonsumsi obat-obatan seperti antihistamin, benzodiazepine, dan obat hipertensi setelah makan dapat membuat Anda merasa mengantuk dan lemas. Itulah sebabnya, petunjuk penggunaan obat sering kali mencantumkan larangan untuk tidak meminum obat saat Anda sedang menyetir atau bekerja. Cara Mengatasi Badan Lemas setelah Makan Lemas setelah makan membuat Anda tidak fokus bekerja atau belajar, ini sejumlah solusinya:  1. Perbanyak Minum Air Mineral Tak hanya menghilangkan dahaga, konsumsi air mineral dapat mengurangi rasa lelah, mengurangi gagal fokus, serta menekan rasa kantuk.[6] Oleh karena itu, cukupi kebutuhan harian air mineral Anda, setidaknya 2,5 hingga 3 liter air setiap hari. 2. Menggerakan Tubuh Tips mengatasi badan lemas lainnya adalah berolahraga. Olahraga dapat mendorong penyaluran oksigen ke seluruh tubuh sehingga tubuh tidak lagi lemas dan lebih bertenaga. Cobalah berjalan santai setelah makan untuk merangsang penyaluran oksigen ini. 3. Mengonsumsi Sido Muncul Jamu Pria Perkasa Bagi pria yang mengalami lesu dan lelah, mengonsumsi Sido Muncul Jamu Pria Perkasa bisa mengembalikan  energi dan semangat Anda. Dengan kandungan jahe merah, lada putih, dan lempuyang, jamu ini akan membuat  tubuh Anda akan kembali segar dan lebih siap menghadapi hari. Jadi, jangan biarkan alasan kenapa badan lemas padahal sudah makan mengganggu produktivitas Anda. Dengan mengatasi penyebabnya dan mencoba solusi di atas, percayalah tubuh Anda akan kembali bertenaga dan segar! Belanja Sehat dan Hemat di Sido Muncul Store! Dapatkan poin reward pada setiap pembelian, kumpulkan point dan tukarkan dengan potongan harga! Semakin banyak poin, semakin hemat belanja! Yuk, kunjungi Sido Muncul Store sekarang!
Baca SelengkapnyaBaca Selengkapnya